Smart Woman
Polwan Cantik Ini Kerap Dapat Laporan Unik saat Bertugas
Semangatnya pun tak pupus hingga ia mencobanya sebanyak tiga kali dan akhirnya berhasil.
Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menjadi figur abdi negara sudah menjadi cita-cita Vivin Febriyanti sejak kecil.
Apalagi, sang ayah yang juga menjadi polisi ikut memberikan image sempurna terhadap profesi polisi Indonesia.
Masa kecil Vivin banyak dihabiskan di Asrama Polisi dengan sang ayah, karenanya kehidupan di kepolisian pun begitu dekat di kesehariannya.
Mengamati pekerjaan sang ayah yang mengatur lalu lintas serta polisi-polisi lainnya yang tampak keren dan mengayomi, semakin membulatkan tekad Vivin untuk mendaftar Akademi Kepolisian usai lulus SMA.
Jalan mulus tak dialami dara asli Sulawesi Tenggara ini, kegagalan menderanya saat mencoba mendaftar sekolah kepolisian paling bergengsi ini.
Semangatnya pun tak pupus hingga ia mencobanya sebanyak tiga kali dan akhirnya berhasil.
"Saya pun mempersiapkan diri secara fisik untuk mengikuti tesnya. Persiapannya meliputi olahraga, lari, renang, sit up push up, serta diet. Waktu itu saya harus turun lima sampai tujuh kilogram, kemudian saya mengatur pola makan agar organ dalam bagus waktu dites," kenang sulung dari dua bersaudara ini.
Lulus dari Akpol pada tahun 2016 lalu, Vivin pun ditempatkan di Polresta Yogyakarta. Pada penempatan pertamanya ini, ia bertugas di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) yang bertugas melayani semua pengaduan dari masyarakat.
Selama lima bulan bertugas di Yogyakarta, ia kerap mendapat laporan-laporan unik dari masyarakat Yogyakarta. Pernah sekali ada seorang wanita yang kebingungan mencari suaminya, adapula kasus pencurian hingga penemuan mayat bayi.
Dan sudah menjadi kewajiban kanit untuk menindaklanjuti laporan warga dan turun ke lapangan untuk menyelesaikan hal tersebut.
"Pernah juga ikut razia malam ke tempat hiburan malam. Saya kan belum tahu dunia malam di Yogya, sehingga dari razia tersebut memberikan pengetahuan saya terhadap sisi lain dari Kota Yogya," katanya.
Berada di unit SPKT, membuat dara kelahiran 1992 inipun harus ekstra cepat dalam memberikan respon pada masyarakat. Jika ada sebuah kejadian, ia harus memberikan antisipasi yang tepat. Namun di sisi lain, ia harus bisa merangkul masyarakat yang terkena musibah.
Pada laporan pemerkosaan misalnya, Vivin harus bisa membawa diri untuk lebih terbuka dengan korban.
Dengan bersikap terbuka, korban akan lebih leluasa untuk bercerita kisah pilu yang menimpanya. Cara ini akhirnya bisa memuluskan penggalian informasi hingga menangkap tersangka.
Mengabdikan diri pada negara sepertinya tak cukup hanya dibatasi 24 jam sehari. Karenanya ia merasa salut pada polisi wanita yang kini sudah menjadi pimpinan di beberapa unit yang mampu mengatur waktu bekerjanya dengan waktu keluarga.
Sempat didera homesick lantaran berjauhan dengan orangtua, Vivin pernah mengeluhkan kesendiriannya. Namun lagi-lagi sang ayah memotivasinya untuk tidak menyerah terhadap tugas yang diembannya.
Ia pun menyibukkan diri dengan pekerjaan dan banyak menghibur diri dengan kegiatan yang menyenangkan, misalnya nonton bioskop serta berwisata alam.
Vivin pun masih menyimpan keinginannya untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang S2. Karena menurutnya, selain pengabdian polisi juga dituntut memiliki pendidikan yang tinggi. (*)