Lestari Yayi Padukan Style Jawa dan Jepang

Dari tangannya, terciptalah tema 'Meet Javanesse and Japanesse' yang dipresentasikan pada Jogja Fashion Week

Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: Muhammad Fatoni

Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Keeksotisan style Jepang menginspirasi desainer lokal, Lestari Yayi untuk menggabungkannya dengan style Jawa.

Dari tangannya, terciptalah tema 'Meet Javanesse and Japanesse' yang dipresentasikan pada Jogja Fashion Week pada Agustus 2016 silam.

Pemilihan tema ini, diakui Yayi sebagai wujud kesukaannya pada style Jepang. Baginya, Jepang memiliki style yang unik, baik dari sisi pakaian tradisional maupun style moderen yang kerap dikenal sebagai Harajuku Style.

"Karena waktu itu tema event-nya batik, jadi coba paduin kain batik sm style Jepang," ujarnya.

Style Jawa diwakili oleh potongan atasan berupa Kebaya Kutubaru dan Kebaya Kartini. Sementara sentuhan Jepang diwakili dengan detil obi atau ornamen sabuk di perut. Obinya sendiri diaplikasikan dengan dua lapis, yakni stagen dan kain lurik yang dipakai bersamaan.

Ide-ide yang diambil dari Kimono tidak hanya sebatas obi saja. Mengambil patern magic, Hakama juga diaplikasikan sebagai bawahan rok sehingga mendekatkan Jepang dan Jawa dalam fashion. Hakama sendiri dikenal sebagai bawahan Kimono, yang bisa difungsikan sebagai rok maupun celana.

Style unik Harajuku juga diterapkan Yayi dalam kolesinya, terutama penggunaan detil renda dengan tambahan organdi pada aksesoris bagian lengan. Aksesoris yang terpisah dari atasan Kutubaru ini sekilas menyerupai sarung tangan panjang yang menutupi lengan. Sekalipun terpisah, namun warna dan bahan yang sama membuat keseluruhan outfit memiliki karakter yang unik.

Keunikan rancangan Yayi kali ini ditunjukkan dengan penggunaan bahan brokat dipadukan dengan detil organdi dan renda.

Warna yang digunakan pun relatif kalem, yakni cokelat, krem, silver dan gold. Penggunaan kain lurik pada obi dan kain batik untuk bawahan berpadu cantik dengan atasan kebaya, membuat keseluruhan look menjadi lebih hidup.

"Style-nya lebih girly, tapi bisa digunakan ke berbagai acara, dan dipadu padankan dengan jeans juga masih cocok. Outfit ini cocok untuk wanita yang fun, ceria dan berani tampil beda," paparnya.

Meskipun terinspirasi dari trend Jepang dan Korea, Yayi mengakui tidak lantas mengikuti mentah-mentah trend tersebut. Ia pun akan mengkombinasikan dengan estetika fashion yang berlaku di Indonesia. Ke depan, Yayi masih haus bereksplorasi dengan kain-kain nusantara.

"Sementara masih cari perajin kain tenun, saya ingin mengaplikasikan manik-manik khas Dayak untuk rancangan saya ke depan. Dengan detil manik-manik ini, rancangan saya akan lebih membidik segmen anak muda," lanjutnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved