Komunikarta

Bank Sampah Griya Sapu Lidi, Tak Hanya Menabung Tapi Juga Sebarkan Semangat Kurangi Sampah

Tidak ada yang berbeda, transaksi tetap terdiri dari nasabah dan petugas bank.

Penulis: app | Editor: Muhammad Fatoni
Erwan Widyarto

Laporan Reporter Tribun Jogja, Arfiansyah Panji Purnandaru

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Mendengar kata bank sebagian orang pasti akan menginterpretasikan dengan tumpukan berlembar-lembar uang baru dengan nominal yang besar.

Lain halnya ketika mendengar kata 'sampah', dibenak banyak orang yang terbesit pasti hanyalah kata macam kotor, tidak sehat, menganggu dan berbagai kalimat negatif lainya.

Lalu bagaimana jika mendengar bank sampah? Tidak perlu pusing mengartikannya. Sederhana saja, bank sampah berarti menabung dengan sampah. Tidak ada yang berbeda, transaksi tetap terdiri dari nasabah dan petugas bank.

Hanya saja obyek yang ditabung tentu berbeda. Setidaknya begitulah penjelasan Erwan Widyarto, mantan Jurnalis dan seorang Penulis buku yang masih sempat meluangkan waktunya mengurus Bank Sampah Griya Sapu Lidi di tempat tinggalnya Perumahan Gumuk Indah, Desa Sidoarum, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Senin (23/1/2017).

Sembilan tahun yang lalu sebuah gagasan muncul dari sebagian besar penghuni perumahan yang dibangun pada tahun 1992-1993 tersebut.

Letak perumahan yang berada di antara dua sungai dan memiliki kontur gumuk pasir membuat debu akan berterbangan ketika kemarau tiba.

Oleh karenanya lingkungan harus ditata sedemikian rupa agar tampak asri.

"Setiap malam 17 Agustus kita ada sarasehan dan handirkan narasumber yang berkompeten. Saya hadirkan direktur Walhi yang sedang mengadakan program membeli sampah masyarakat. Juga hadir pula profesor dari Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM dan bicara tentang sampah," jelasnya.

Lanjut Erwan, pada waktu itu belum tercetus bank sampah. Seiring berjalannya waktu dan melakukan studi banding di desa lain, bank sampah terbentuk dengan dukungan Rt Rw dan membangun Rumah Sampah. Setiap rumah mendapat tiga kantong sampah masing-masing untuk sampah plastik, logam atau kaca, dan kertas.

"Kemudian bersamaan dengan program Green and Clean dari LSM sehingga semakin termotivasi dan menguatkan," ujarnya.

"Kalau kita menjadi orang yang tidak bertanggung jawab sih enak kita tinggal buang di sungai misal. Tetapi ditempat lain sampah yang hanyut itu menjadi masalah. Membuang masalah kita menjadi masalah orang lain. Kita harus bertanggung jawab kita yang mengehasilkan samlah maka kita yang mengelola sampah," tegas Erwan menyampaikan alasan bedirinya Bank Sampah Griya Sapu Lidi.

Transaksi dalam bank sampah sendiri tidak sesulit yang dibanyangkan. Yang terpenting terdapat nasabah, petugas bank, dan pengepul. Sebelum menabung nasabah atau penyetor sampah sudah harus memilah sampah yang terdiri dari 30 jenis sampah yabg tersiri dari sampah plastik, logam atau sampah, dan kertas tersebut. Lantas sampah tersebut akan dicatat dalam buku tabungan.

"Kalau dikilokan buku harganya sama saja. Tapi kalau dipilah, sampul dan isi buku memiliki jenis kertas yang berbeda. Maka harga berbeda pula," jelasnya

Dari tabungan sampah tersebut, setiap rumah dapat memperoleh ratusan ribu rupiah tiap tahun. Selain itu Bank Sampah juga menyediakan simpan pinjam bagi warga.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved