KOMUNIKARTA

Sampaiakan Pesan Persatuan Melalui Upacara

Tidak hanya mengenakan pakaian adat Jawa, dalam upacara tersebut bahasa yang digunakan juga menggunakan bahasa Jawa.

Penulis: app | Editor: Muhammad Fatoni
Dok Pemerintah Desa Glagaharjo
Upacara HUT ke 70 Desa Glagaharjo Padukuhan Banjarsari, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Banguntapan pada Senin (19/12/2016). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Arfiansyah Panji Purnandaru

TRIBUNJOGJA.COM - Selama ini upacara bendera selalu identik dengan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia.

Selain itu, upacara juga sering diadakan di sekolah-sekolah pada hari senin. Namun, Desa Glagaharjo dalam perayaan ulang tahunnya tidak hanya sekedar mengadakan berbagai pentas seni tetapi juga menggelar upacara.

Lapangan di Padukuhan Banjarsari, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Banguntapan pada Senin (19/12/2016) dipenuhi orang berpakaian adat Jawa.

Puluhan orang yang terdiri dari masyarakat umum dari seluruh Padukuhan yang ada di Desa Glagaharjo, para guru, relawan, dan perangkat desa tersebut mengikuti upacara dalam rangka memperingati hari ulang tahun (HUT) Desa Glagaharjo yang ke 70 tahun.

Tidak hanya mengenakan pakaian adat Jawa, dalam upacara tersebut bahasa yang digunakan juga menggunakan bahasa Jawa. Upacara juga diiringi oleh seni tradisional karawitan.

Selain upacara, pada pagi harinya juga digelar berbagai pertunjukan seni tradisional untuk menghibur masyarakat.

Dimulai dari drum band siswa-siswi SD Muhammadiyah Cepit Sari hingga pertunjukkan jathilan tumpah ruah di lapangan tersebut.

"Kita mulai jam satu siang. Sebelumnya juga ada pentas jatihilan dan drumband. Setelah itu kita mulai upacara dan kita memberi tali asih kaitannya dengan perangkat desa yang sudah purna tugas," jelas Suroto, Kepala Desa Glagaharjo kepada Tribun Jogja, Selasa (20/12/2016).

Suroto juga menjelaskan diadakannya upacara tersebut sebagai wujud mempererat persatuan dan kesatuan masyarakat Desa Glagaharjo. Selain itu, juga menjadi ajang menceritakan cikal bakal Desa Glagaharjo.

"Upacara bisa dibilang acara sakral. Jadi waktu amanat kami juga ceritakan berdirinya Desa Glagahsari menjadi Glagaharjo. Agar masyarakat tahu sejarahnya. Selain itu, menjaga kekompakan dan persatuan masyarakat juga penting," tambahnya.

Setelah upacara tersebut selesai, acara pun dilanjutkan dengan pembagian hadiah dan pemotongan tumoeng. Malam harinya, masyarakat kembali dihibur dengan pementasan wayang kulit Ki Seno Nugroho.

"Kami berterimakasih terhadap antusias masyarakat dan donatur yang membantu. Pemdes ucapkan terimakasih," tutupnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved