165 Warga Kota Yogya Tercatat Mengidap Cacing Perut
Angka ini diperkirakan menurun jika dibandingkan dengan tahun 2015 yang mencapai 182 kasus kecacingan
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Angka penyakit yang disebabkan oleh cacing di Kota Yogyakarta mencapai 165 kasus sampai November tahun ini.
Angka ini diperkirakan menurun jika dibandingkan dengan tahun 2015 yang mencapai 182 kasus kecacingan (Soil Transmitted Helminthiasis/STH).
Meskipun angka tersebut cukup kecil, namun Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat tetap melaksanakan program pengendalian kecacingan terintegrasi pada anak usia dini dan anak usia sekolah di Kota Yogyakarta.
Program ini akan diberikan pada ribuan anak yang rawan mengidap penyakit ini.
“Ada 61 ribu sasaran di Yogyakarta yang akan mendapatkan program ini. Program ini akan berjalan sejak bulan Desember 2016 hingga lima tahun ke depan,” jelas Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan Penyakit (P2) Dinkes setempat, Endang Sri Rahayu, Jumat (16/12/2016).
Dia menjelaskan, penyakit akibat cacing ini ditularkan dari beragam cara. Utamanya, ditularkan lewat tanah dan dikenal dengan istilah cacing perut. Penyakit ini, sebut Endang, masih menjadi penyakit serius di daerah beriklim tropis.
Beberapa faktor penyebab adanya penularan cacing ini lantaran sanitasi suatu daerah yang buruk. Selain itu juga kondisi lingkungan yang tidak higienis.
Di Kota Yogyakarta, lingkungan sekitar kawasan bantaran sungai dan lingkungan kumuh juga tak luput menjadi perhatian untuk penanganan kasus ini.
Adapun, ada tiga jenis cacing yang mudah menginfeksi dan menyebabkan efek tidak baik pada anak usia dini dan anak usia sekolah.
Di antaranya adalah, cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing tambang (Ancylostoma duodenale), dan cacing cambuk (Trichuris trichiura).
“Cacing tersebut sangat mudah menginfeksi melalui tangan dan kaki yang kotor. Sehingga, infeksinya langsung hingga ke usus manusia,” ujarnya.
Usai terinfeksi cacing tersebut, seseorang akan mengalami mal nutrisi, anemia, dan juga penyakit lainnya. Imbasnya, jika tidak segera ditangani akan semakin memperparah dan memudahkan seseorang rentan terserang penyakit kronis.
“Contohnya, jika ada mal nutrisi dan anemia yang terus menerus. Akan membuat kerja jantung yang berfungsi memompa darah akan tidak bekerja baik. Sehingga, efeknya adalah bisa terserang penyakit jantung,” katanya.
Tidak menutup kemungkinan, kasus kecacingan juga menyebabkan kematian karena status gizi buruk yang merusak kemampuan kognitif, dan menimbulkan sindrom klinis yang terkait dengan migrasi cacing, obstruksi usus, radang usus besar, dan prolapse dubur.
Untuk menangani risiko kecacingan ini, pihaknya melaksanakan program pemberian obat cacing berupa Albendazole dengan kadar 400 miligram dan dosis sekali minum.
Obat tersebut diberikan secara serentak pada anak yang menjadi sasarang pengobatan. (Tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/cacing-gelang_1_20160213_100153.jpg)