Pemilih Tuna Netra Berharap Dapat Template Mika
Template braile yang dipergunakan juga diminta untuk menggunakan mika agar tetap mudah dibaca oleh pemilih tuna netra.
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sejumlah difabel di Kota Yogyakarta berharap pemilihan Wali Kota Yogyakarta yang akan berlangsung bulan Februari 2017 mendatang bisa berjalan melaksanakan azas langsung, umum, bebas dan rahasia.
Selain itu, template braile yang dipergunakan juga diminta untuk menggunakan mika agar tetap mudah dibaca oleh pemilih tuna netra.
SEJUMLAH penyandang tuna netra nampak sibuk membaca huruf braile yang berisi visi misi dua pasangan calon (paslon) Wali Kota yang akan bertarung di bursa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Yogyakarta di Sekolah Luar Biasa (SLB) A Yayasan Kesejahteraan Tuna Netra Islam (Yaketunis), Rabu (14/12/2016). Mereka juga diberikan paparan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta terkait dengan Pilkada tersebut.
Widodo, salah satu tuna netra yang mengikuti sosialisasi di Yaketunis nampak senang mengikuti sosialisasi ini. Menurutnya, dalam sosialisasi ini, para difabel justru bisa mendapat pengetahuan untuk masing-masing paslon. Sehingga, mereka tidak keliru dalam memilihnya.
“Adanya sosialisasi ini, cukup membantu kami para tuna netra untuk nantinya bisa menggunakan hak pilih,” ucap Widodo.
Widodo adalah satu diantara tuna netra yang mengeluhkan penggunaan template braile kertas untuk pemungutan suara. Dia menilai, template yang difungsikan sebagai surat suara bagi tuna netra ini masih banyak kekurangan.
Diantaranya, saat pelaksanaan Pemilu tahun 2014, template yang disediakan bagi difabel adalah kertas. Template kertas ini, menurutnya, sangat tidak membantunya karena mudah terlipat dan terhapus, sehingga akan menjadi kendala dalam memilih.
“Lebih baik menggunakan template mika, karena sangat kuat dan kami bisa membacanya dengan jelas, seperti pada Pemilu tahun 2009 lalu,” ujar Widodo yang juga merupakan guru ketrampilan di Yaketunis.
Selain itu, dia juga meminta agar kerahasiaan tuna netra juga tetap terjaga. Pasalnya, beberapa penyandang tuna netra ada yang didampingi saksi. Sehingga, kerahasiaan hak pilih tuna netra tetap terjamin.
Siti Saadah (40), difabel lainnya juga menilai dengan adanya sosialisasi ini para difabel bisa mengetahui hak-haknya dalam Pilkada. Namun, dia juga sempat mengeluhkan adanya saksi yang membantu para tuna netra untuk menggunakan hak pilih.
Adanya saksi, kata dia, justru akan membuat para pemilih tuna netra tidak nyaman. Pasalnya, saksi yang mendampingi itu akan tahu pilihan para pemilih tuna netra. Sementara, jika saksi itu kawan dekat yang berbeda pilihan, terkadang justru menimbulkan kerenggangan.
“Jadi kalau ada saksi kurang nyaman. Padahal seharusnya, azas luber itu harus dijunjung tinggi,” kata Siti.
Guru Bimbingan Konseling di Yaketunis ini juga meminta agar template untuk tuna netra juga berbahan mika. Sehingga, lebih mudah dibaca dan tidak cepat rusak atau terlipat.
Divisi Sosialisasi KPU Kota Yogyakarta, Rani menjelaskan, pihaknya akan menampung masukan dari para difabel untuk penyediaan template dari mika ini. Sejauh ini, KPU setempat hanya menggunakan template kertas yang memang dikeluhkan oleh para pemilih tuna netra.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-pilkada-pemilihan-umum-kotak-suara-surat-suara_20150406_145126.jpg)