Geliat Komik Lokal di Yogya

Komikus yang Mengutamakan Seni Juga Unjuk Gigi di Yogya

Seniman yang mengekspresikan dirinya melalui komik juga tak ketinggalan.

Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Rento Ari Nugroho
Komikus Karisma Jati sedang mengerjakan komik karyanya di rumahnya di kawasan Ringroad Selatan 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kembali menggeliatnya dunia komik di Indonesia tidak hanya berbicara tentang komik komersial.

Seniman yang mengekspresikan dirinya melalui komik juga tak ketinggalan. Di Yogyakarta, kalangan ini terus berkembang.

Satu contohnya adalah komunitas Barasub yang berbasis di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Komunitas yang berangkat dari kecintaan pada dunia komik oleh sekelompok mahasiswa lintas jurusan ini aktif berkarya.

Uniknya, dalam memasarkan karyanya mereka memakai cara yang "nyleneh."

Anggota Barasub, Reza mengungkapkan, komunitas yang berdiri pada September 2015 ini didukung oleh mahasiswa dari jurusan Seni murni, lukis, grafis dan Desain Komunikasi Visual.

Dalam berkarya, ia dan rrekan-rekan lebih berfokus pada dokumentasi karya mereka di media sosial.

"Tema-tema yang diangkat lebih ke tema personal, tidak selalu harus mengangkat isu meski ada juga yang begitu. Karya juga lebih ke ekspresi yang dibukukan walau ceritanya jugas masih waton atau ngasal. Tak ada aliran yang pasti. Di Barasub ada yang karyanya 80 persen teks 20 persen gambar, atau bahkan ada silent comic yang minim dialog," paparnya ketika ditemui di kampus ISI, pekan lalu.

Kebanyakan anggota Barasub memang aktif memamerkan karyanya di media sosial misalnya instagram. Namun demikian, emnurut reza, mereka masih memandang penting karya komik secara fisik.

"Selama ini kan kita posting per individu. Akhirnya kami tergerak untuk membuat rilisan fisik secara kolektif. Sasaran pembaca dan pasarnya lebih ke memorabilia yang kolektibel (Layak dikoleksi, red)," ugkapnya.

Meski masih terhitung muda, namun Barasub telah menelurkan beberapa karya mulai dari dua buku komik, dan tiga edisi ilustrasi. Selain menghasilkan karya-karya yang unik dan ekspresif, Barasub juga memasarkan karyanya, yang menurut Reza bisa disebut ilegal.

"Sering disebutnya lapak ilegal, sebab kami menjualnya nebeng ke acara lainnya tanpa ijin. pas ada acara, kami tiba-tiba datang dan menggelar lapak. Ibaratnya sambil menyelam minum air. Yang disasar adalah acara seputar seni misalnya pameran dan acara band gitu," ungkapnya.

Anggota Barasub lain, Enka Nkomr menambahkan, meski ilegal, namun sejauh ini tidak ada masalah berarti dengan panitia. Kebanyakan memaklumi apa yang mereka lakukan.

"Namun pernah juga diusir karena memang acara yang ditebengi beda temanya," katanya.

Komik sebagai media berekspresi ini juga dijalani oleh komikus Prihatmoko Moki. Telah belajar menggambar komik sejak SD, ia mulai aktif ngomik melalui media komik fotokopi. Jalan hidupnya sebagai komikus semakin terbuka setelah ia sekolah di Sekolah Menengah Seni Rupa(SMSR).

"Di SMSR saya fokus untuk menjadi seniman, namun di sini komik menjadi jalan untuk mengekspresikan ide. Jadinya, entah bisa disebut komikus atau tidak, kalau ada ide baru saya bikin komik. Bahkan, pekerjaan pokok saat ini ya ilustrator," katanya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved