800 Lumbung Air Dibangun di Magelang

sebanyak 800 sumur resapan, atau sering disebut sebagai lumbung air, dibangun di sejumlah wilayah Kabupaten Magelang.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Azka Ramadhan
Titie Sadarini, Chief Executive of Coca-Cola Foundation (CCFI) melakukan prosesi adat jawa 'memetri' bersama para tamu undangan, sebagai simbol pengembalian air ke tanah, di Desa Selomoyo, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Kamis (8/12/16). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Azka Ramadhan

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Sebagai upaya mempertahankan keberlangsungan lingkungan, khususnya yang berkaitan dengan perbaikan ketersediaan air tanah, sebanyak 800 sumur resapan, atau sering disebut sebagai lumbung air, dibangun di sejumlah wilayah Kabupaten Magelang.

Pengadaan 800 lumbung air tersebut digalakan oleh Coca-Cola Foundation (CCFI) Indonesia dan bekerja sama dengan Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT), yang diserahterimakan pada warga Desa Selomoyo, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Kamis (8/12/16).

Disampaikan oleh Titie Sadarini, Chief Executive of CCFI, bahwa pihaknya telah memulai program lumbung air sejak tahun 2012 silam. 

Tak hanya di Kabupaten Magelang saja, namun juga mencakup beberapa daerah lain di tanah air, seperti Semarang, Salatiga, Mojokerto, hingga Malang.

Ia menambahkan, konservasi air merupakan salah satu global sustainability pillar CCFI, yang berkomitmen penuh dalam upaya peningkatan sumber air, akses bersih dan sanitasi. 

Karena itu, hingga kini, bersama mitra kerja, pihaknya telah membangun lebih dari 4000 lumbung air di sejumlah wilayah.

"Dampaknya bukan saja memperoleh sumber air, namun juga meningkatkan pasokan air, sekaligus melindungi dari ancaman kekurangan air. Nantinya, tingkat kesehatan dan perekonomian masyarakat pun akan turut terkerek. Harapan kami, 3000 keluarga Kabupaten Magelang dapat memperoleh manfaat tersebut," katanya.

Apalagi, kembali dipaparkan oleh Titie, berdasarkan pengamatan dan informasi dari PDAM Kabupaten Magelang, jika sumber air di wilayah setempat terus mengalami penurunan. 

Maka dari itu, peran dari CCFI dalam mengembalikan air ke alam dipastikan meningkat.

Sementara itu, Ketua SPPQT, Abdul Rochim, mengatakan jika persoalan akses air merupakan sebuah masalah yang dihadapi, seperti contoh menurunnya pasokan air untuk kebutuhan pertanian. 

Bahkan, ia menambahkan, di beberapa wilayah, sumber air itu telah hilang.

"Karena itu, dalam kurun waktu satu tahun terakhir, kami bermitra dengan CCFI, untuk melakukan upaya perbaikan sumber daya air. Fokus kegiatannya adalah melakukan konservasi air dengan membangun sejumlah sumur resapan," bebernya.

Abdul mengimbuhkan, lumbung air dengan ukuran 2x2 meter dari lahan warga, yang dapat menampung 8000 m3, merupakan upaya efektif dalam hal konservasi air. 

Selain berfungsi untuk mengendalikan air di musim hujan, lumbung air juga dapat memperbaiki debit air tanah. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved