KOLOM 52
Kamu Tak Akan Bisa Sembunyi, Bijaklah Menggunakan Sosial Media!
Ia membuat twitter bukan untuk tempat menebar fitnah. Tapi ruang buat mengikuti berbagai hal yang terjadi di dunia secara real time.
Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: Muhammad Fatoni
SEJATINYA, Mark Zuckerberg ingin menjadikan facebook sebagai tempat yang menyenangkan. Tempat untuk saling berbagi kabar, tempat orang untuk mendapatkan informasi apa yang terjadi di sekelilingnya, tempat untuk saling berbagi inspirasi atau tempat untuk membuat orang saling terhubung dengan keluarga, saudara dan kawan lama.
Demikian pula dengan Jack Dorsey. Ia membuat twitter bukan untuk tempat menebar fitnah. Tapi ruang buat mengikuti berbagai hal yang terjadi di dunia secara real time.
Tapi apa yang kita rasakan belakangan ini tampaknya jauh panggang dari api. Alih-alih inspirasi, linimasa penuh dengan caci maki. Alih-alih tegur sapa, linimasa penuh dengan syak wasangka. Alih-alih menambah pertemanan, linimasa justru penuh dengan permusuhan.
Kita tentu tak dapat menyalahkan perkembangan teknologi dan tak bisa pula membendungnya. Tapi tak bisa disangkal bahwa memang teknologi bak Dewa Janus yang bermuka dua. Ia bisa digunakan untuk hal positif, dan dalam waktu bersamaan juga bisa digunakan untuk hal negatif. Bahkan ia bisa pula menghancurkan mu dalam sekejap!
Ya, bukan teknologinya yang salah, tapi mereka yang menggunakannya.
Kita tentu masih ingat, seorang Pandu Wijaya langsung menjadi 'selebritis' karena kicauannya yang dianggap menghina. Tak butuh waktu lama, identitasnya diketahui, fotonya terpampang dimana-mana, perusahaan tempatnya bekerja langsung diketahui, ia menjadi sasaran kemarahan, hingga akhirnya perusahaan tempatnya bekerja pun turun tangan memberikan surat peringatan.
Padahal, ia berkicau di dunia maya yang sebagian besar orang menganggapnya sebagai tempat yang paling bebas. Bebas berpendapat, bebas bersuara, bebas melakukan apapun. Tapi mungkin lupa, bahwa di belakang itu semua ada pula tanggung jawab besar. Ada konsekuensinya.
Tak peduli anda menggunakan identitas palsu, tak peduli anda menggunakan foto palsu, tapi pengalaman membuktikan, google sudah masuk jauh lebih dalam untuk mengungkap identitas anda di dunia nyata.
Tak cuma si empunya status, keluarga pun bisa terseret, perusahaan tempat bekerja pun bisa kena getahnya juga. Kampus tempat mu kuliah bisa kena aibnya, sekolah tempatmu belajar bisa terseret pula.
Ya, tak ada tempat lagi untuk bersembunyi. Jejak-jejak itu mudah sekali terendus. Jika sudah begitu, bersiap-siaplah menjadikan jempolmu harimaumu, harimau bagi keluargamu dan harimau bagi perusahaanmu, bagi kampusmu, bagi sekolahmu.
Ya bijaklah di dunia maya. Karena dunia maya bukanlah dunia antah berantah yang tak terjangkau. Kamu tak bisa lagi lempar batu sembunyi tangan. Kamu melempar, siap-siap kamu dilempar balik dengan lebih sakit, amat sakit. (mona kriesdinar)