Kemeriahan Kirab Budaya Suran di Bugel Kulonprogo
Warga yang terlibat dalam kirab itu sebagai bergodo Ki Daruno dan Ni Daruni.
Penulis: Yoseph Hary W | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM,KULONPROGO - Prosesi arak-arakan warga saat kirab budaya peringatan 1 Sura, Desa Bugel Kecamatan Panjatan Kulonprogo, Selasa (1/11/2016), mengusung tema cerita perjuangan Ki Daruno dan Ni Daruni.
Sepanjang kirab menuju petilasan tokoh pengawal Pangeran Diponegoro di Dusun X desa setempat itu, warga selain membawa gunungan hasil bumi juga tampak menenteng pusaka berupa tombak. Mereka terlibat dalam kirab itu sebagai bergodo Ki Daruno dan Ni Daruni.
Dua tokoh itu memang dipercaya warga setempat sebagai pejuang ampuh ketika membantu perjuangan Pangeran Diponegoro dan Nyi Ageng Serang. Warga sekitar pun tampak antusias mengikuti dan terlibat dalam prosesi adat tersebut.
Warga bahkan rela berebut hasil bumi ketika gunungan tiba di kompleks petilasan Ki Daruno dan Ni Daruni. Satu di antaranya, Marsini (53), warga Bugel berusaha mendapatkan sayur-sayuran berupa tomat, kacang panjang, dan terong serta sayuran lainnya.
"Katanya berkah. Ini saya mendapat tomat dan kacang panjang. Nanti saya bikin sayur," kata Marsini.
Demikian juga Winarti (40) tampak berebut hasil bumi bersama anaknya. Perempuan itu mengaku tidak pernah absen dari acara kirab tradisi suran di desa itu.
"Apalagi banyak pentas seni, jadi saya ajak anak sekalian," ujarnya.
Pemangku Adat setempat, Prawoto Wiyono, menceritakan kisah perjuangan Ki Daruno dan Ni Daruni di desa itu melekat di masyarakat secara lisan.
Keduanya merupakan pejuang dari Kerajaan Mataram yang bertugas mengawal Pangeran Diponegoro. Selain itu, keduanya juga melanjutkan perjuangan bersama Nyi Ageng Serang.
"Perjuangan keduanya antara 1825 - 1830. Saat itu melawan penjajah Belanda," kata Prawoto.
Dalam pelarian karena dikejar pasukan Belanda, keduanya sempat bersembunyi di rawa-rawa wilayah Bugel. Keduanya juga menyembunyikan pusaka berupa tombak di bawah rerumputan kering dan ditimbun lumpur.
"Lokasi penyimpanan itu ditandai dengan pohon asam, asam jawa. Itu yang sekarang menjadi petilasan di wilayah kami," lanjutnya.
Kepala Desa Bugel, Sunardi, mengatakan kirab budaya juga dimeriahkan pentas seni anak-anak dan warga setempat. Beberapa di antaranya adalah pentas Gejog Lesung, Tedak Siten, Jathilan, Kethoprak, dan pengajian akbar bersama seorang kyai dari Sruweng Kebumen Jawa Tengah.
"Peserta kirab juga membawa tombak sebagai simbol pusaka Ki Daruno dan Ni Daruni, sebagai bentuk penghormatan, dan upaya melestarikan budaya," kata Kades Sunardi. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/kirab-bugel_20161101_225608.jpg)