Selera Perusahaan dalam Mencari SDM Mulai Berubah

Ada banyak hal yang membuat lowongan tidak bisa tersisi, seperti karena tidak lolosnya kandidat di tes yang disyaratkan termasuk tes kesehatan.

Penulis: dnh | Editor: oda
tribunjogja/angga purnama
Pengunjung melihat stand penyedia lowongan pekerjaan di Job Market Fair. (ILUSTRASI) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Lowongan pekerjaan tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja, sementara itu jumlah pengangguran trennya naik.

Di sisi lain, terjadi kontradiksi lowongan yang ada kadang justru tidak bisa terisi karena bermacam alasan.

Ada banyak hal yang membuat lowongan tidak bisa tersisi, seperti karena tidak lolosnya kandidat di tes yang disyaratkan termasuk tes kesehatan.

Direktur ECC (Engineering Career Center) UGM, Nurhadi menyebutkan masalah emosi dan leadership juga ikut mempengaruhi.

"Sejauh observasi kami dan hasil penuturan dari member perusahaan yang menjadi rekanan kami, sebagian besar mendapatkan kandidat melalui ECC UGM. Namun ada pula sebagian kecil lowongan yang tidak terpenuhi, " ujarnya akhir pekan ini.

Berdasarkan data human resources service ECC pada tahun 2014 terhadap 611 peserta tes salah satu perusahaan BUMN, 58 persen jobseeker gagal karena tes kesehatan. 54 persen dari itu gagal untuk tes darah dan 65 persen karena kolesterol, 17 persen karena jantung, 14 persen karena fisik, 10 persen karena tes urine, 3 persen tes dada dan 2 persen tes pendengaran.

"Hal lain yang menyebabkan gap antara kompetensi yang diinginkan perusahaan dan kondisi jobseeker adalah karena rata-rata pencari kerja memiliki emosi yang tidak stabil dan bermasalah dalam hal leadership," terang Nurhadi.

Data dari hasil psikotes salah satu perusahaan BUMN yang dihimpun oleh ECC UGM pada tahun 2012, 2014 dan 2015 sebanyak 1.002 kandidat untuk dimensi kognitif atau intelektual, untuk aspek intelegensi umum, kemampuan verbal dan kemampuan numerik sudah tidak ada jarak antara standar yang diinginkan perusahaan dengan pencari kerja.

Tetapi masih ada sedikit jarak dalam aspek kemampuan abstraksi.

Sementara itu untuk dimensi sikap kerja, aspek motivasi kerja, tempo kerja dan ketelitian kerja sudah tidak ada jarak antara standar perusahaan dengan pencari kerja, tetapi untuk aspek ketahanan kerja masih ada jarak.

Sedangkan untuk dimensi kepribadian, aspek kerjasama tim dan kontak sosial tidak ada jarak, namun ada kesenjangan yang perlu upaya peningkatan dari aspek stabilitas emosi, adaptasi, kepemimpinan dan toleransi stres.

Ditanya terkait tren perusahaan saat ini dalam mencari kandidat, Nurhadi mengatakan saat ini ada sedikit perbedaan dan pergeseran.

Tren yang berkembang adalah perusahaan menitikberatkan pencarian SDM pada core competency dan mengabaikan peripheral competency.

"Core competency meliputi karakter, integritas, motivasi, dan lainnya, atau hal yang biasa disebut soft skill. Sedangkan peripheral competency atau juga sering disebut hard skill meliputi skill atau keahlian, knowledge atau pengetahuan dan lain lain, " jelas Nurhadi.

Hal tersebut menurutnya terjadi karena perusahaan memandang core competency merupakan pondasi, dan cenderung memerlukan waktu yang lama dan lebih sulit untuk membangunnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved