Lipsus Ancaman Ombak Pantai Selatan

Ancaman Ombak Pemangsa di Pantai Selatan Yogya

Gelombang besar dan ombak ganas mematikan identik dengan pantai-pantai selatan DIY.

Penulis: dnh | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Hamim Thohari
Pantai Ngobaran 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA ‑ Pantai-pantai di pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki potensi dan keindahan alam yang luar biasa. Puluhan pantai berderet mulai dari Sadeng di timur hingga Congot di barat. Mulai berpasir putih hingga hitam. Namun demikian, pantai di pesisir selatan DIY juga memiliki potensi bahaya yang amat jarang diperhatikan pelancong yang datang berduyun-duyun. Gelombang besar dan ombak ganas mematikan identik dengan pantai-pantai selatan DIY.

Pakar Geomorfologi Pesisir UGM, Prof Sunarto menyebutkan potensi bahaya terseret arus di pantai pesisir selatan DIY sangat tinggi dan mematikan. Hal ini terjadi karena adanya rip current atau arus retas yang biasanya terjadi di daerah pesisir yang memiliki embayment atau teluk.

Seperti Parangtritis yang berkeluk dan pantai‑pantai lain di pesisir Gunugkidul yang biasanya berbentuk teluk dengan berbatas batuan tinggi. Adanya ombak pemangsa ini pula yang selama ini kurang dimengerti pengunjung pantai.

Arus retas ini biasanya muncul di tengah cekungan pantai yang curam dan lokasinya bisa berpindah pindah untuk pantai seperti Parangtritis.

"Ada yang menyebut palung, ada yang menyebut lebengan, ada yang menyebut sungai di dalam laut. Sebenarnya ini arus permukaan bukan arus dalam," ujar Sunarto awal pekan ini.

Pada wilayah ini menurut Sunarto gelombang lebih kecil dan tenang, sehingga banyak dipilih pengunjung. Arus retas adalah pantulan dari dua kekuatan gelombang yang menghantam pantai yang mengalir dari tepi pantai yang kembali ke laut.

"Kekuatan seretnya pun besar yakni dua meter per detik," ujarnya. Sunarto mengingatkan, pantai di Gunungkidul memiliki potensi bahaya lebih tinggi. Selain rip current, karang tajam di sepanjang pantai‑pantai juga bisa membuat fatal.

"Proses rip current di pantai Parangtritis dan Gunungkidul sama. Bedanya satu, kalau ceruk di Gunungkidul merupakan muara sungai bawah tanah, jadi banter banget (arus menyeretnya). Lebih besar bahayanya, meski tidak semua merupakan muara sungai, Baron itu muara sungai," katanya.

Meski memiliki bahaya yang cukup besar, menurutnya wisatawan tidak perlu untuk dilarang mandi di laut. Wisatawan perlu diberi pemahaman daerah daerah mana saja yang tidak boleh digunakan untuk mandi dan berbahaya.

Terseret ombak

Korban jiwa akibat terseret ombak dan kecelakaan (laka) laut lainnya terus bermunculan. Data yang diterima Tribun Jogja dari SAR Satlinmas DIY, hingga tiga triwulan 2016 sudah ada 100 kasus laka laut yang didominasi kasus terseret ombak.

"Kalau dikalkulasikan di pantai selatan (kasus laka laut) itu besar sekali. Kasus terseret ombak yang mendominasi," ujar Sulistyanto, Komandan Operasi SAR Satlinmas DIY ditemui di kantornya belum lama ini.

Di triwulan pertama 2016, di wilayah I Sadeng yang meliputi beberapa pantai seperti Wediombo jumlah korban selamat 7 orang. Sementara itu bergeser ke barat di wilayah II Baron ada 25 orang selamat.

Di wilayah III Parangtritis ada 30 orang yang berhasil selamat dengan lima korban meninggal. Sementara bergeser ke barat di wilayah IV Samas, ada tiga orang selamat dan dua orang yang meninggal, serta satu korban hilang.

Di wilayah V Glagah ada empat orang selamat dan dua korban meninggal dan satu orang hilang. Di triwulan dua dan tiga, jumlah laka laut di wilayah Gunungkidul melonjak.

Di wilayah I Sadeng, triwulan dua ada delapan korban selamat, satu korban meninggal. Sementara di triwulan ketiga, ada dua puluh korban selamat dengan lima korban meninggal serta satu korban hilang.

Di wilayah Baron yang meliputi beberapa pantai seperti Kukup, Krakal di triwulan dua ada 18 korban selamat dua korban meninggal dan satu hilang.

Sedangkan triwulan ketiga ada 33 korban selamat. Komandan Operasi SAR Satlinmas DIY, Sulistyanto menyebut ada tren pergeseran terjadinya laka laut kini tinggi di daerah Gunungkidul.

"Sekarang (trennya) agak ke timur (Gunungkidul), sekarang potensi yang paling meningkat akhir akhir ini di daerah Gunungkidul, dari Nglambor, Siung, terus barat Indrayanti, Kukup, Krakal, Baron. Sekarang baru meningkat meningkatnya, dibandingkan yang di Parangtritis ke barat," ujarnya.

Favorit turisme

Tim SAR tengah melakukan penyisiran pantai Baron, untuk menemukan korban terseret ombak, Rabu (25/5/2016).

Menurutnya, tingginya angka laka laut yang didominasi kasus terseret ombak terjadi karena saat ini wisatawan berbondong‑bondong datang ke Gunungkidul. Sehingga resiko terjadinya kasus menjadi semakin besar.

Sebelumnya daerah Parangtritis yang menjadi primadona, angka di Parangtritis pun tinggi. Jumlah pantai yang ada di Gunungkidul pun lebih banyak. Terlebih saat ini ada pantai‑pantai baru yang menjadi terkenal atau menjadi hits di media sosial yang menarik para pengunjung atau wisatawan untuk datang berbondong‑bondong ke sana.

Menurut Sulistyanto saat ini ada sekitar 40 pantai di Gunungkidul yang harus diawasi oleh SAR Satlinmas DIY. Di wilayah Baron ada sekitar 31 pantai. Sementara untuk wilayah Sadeng Wediombo sekarang ada sekitar sembilan pantai.

"Kalau itu dijumlah semuanya, SAR Satlinmas kurang personel. Kuwalahan betul, jika dibandingkan dengan Depok dan Parangtritis, Samas dan Glagah. Sekarang (Gunungkidul) luar biasa ramai," ujarnya.

SAR Satlinmas pun harus bekerja keras dengan kondisi saat ini. Anggota SAR Satlinmas harus memantau beberapa pantai di Gunungkidul yang beberapa letaknya berjauhan. Karena personel terbatas, mereka pun harus berpindah‑pindah.

Sementara itu, dalam kurun waktu 25 tahun terkahir, ratusan orang meninggal di wilayah SAR Parangtritis dan Depok,hampir sebagian besar karena terseret arus. Data dari Pos SAR Pantai Parangtritis, dari tahun 1991 hingga 2015 ada 783 korban yang berhasil diselamatkan.

Sementara itu ada 129 korban meninggal dalam kurun waktu tersebut serta ada 51 korban yang hilang dan tidak ditemukan. Jika jumlah tersebut ditambahkan dengan data di awal tulisan, maka ada ratusan korban meninggal di pantai selatan DIY.

Rio, salah satu anggota SAR Parangtritis mengatakan banyak korban adalah berasal dari luar DIY yang tidak tahu karakter pantai selatan.

"SAR sudah memberikan pemberitahuan daerah‑daerah mana saja yang berbahaya untuk mandi. Namun banyak yang tidak menghiraukan dan ngeyel tetap mandi," ujarnya saat ditemui belum lama ini.

Pantai di pesisir selatan DIY memiliki beberapa karakter yang berbeda. Parangtritis hingga Congot memiliki karakter pantai yang memanjang dengan pasir hitam.

Sementara pantai di Gunungkidul biasanya kecil‑kecil dan dibatasi dengan tebing‑tebing karst yang tinggi, dengan dominasi pasir putih. Selain itu, pantai di Gunungkidul juga memiliki karang‑karang.

Karena sejatinya orang ke pantai pasti ingin menikmati air laut, maka yang diperlukan adalah panduan informatif. Bisa dibuatkan papan pemberitahuan yang menunjukkan daerah‑daerah mana saja yang berbahaya.

"Jangan dilarang, nanti saya dikira menentang pemerintah? Tidak. Tapi tolong diberi itu, kalau bisa mass tourism, pakai bus itu diberi selebaran leaflet, ada gambarnya jangan tulisan saja. Ada gambarnya, sehingga masyarakat seperti ini tho (tahu tentang bahaya‑bahaya yang bisa terjadi di pantai), jangan bermain air di bagian cekungan ini apalagi cekungannya curam," pesan Prof Sunarto. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved