Ratusan Hektare Sawah di Bantul Gagal Panen
Sebanyak ratusan hektare sawah di Bantul dinyatakan puso atau gagal panen
Penulis: usm | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Usman Hadi
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Ratusan hektare sawah di Bantul dinyatakan puso atau gagal panen.
Berdasarkan data yang tercatat di Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) Kabupaten Bantul, sebanyak 964 hektare lahan pertanian di Kabupaten Projotamansari gagal panen akibat banjir yang melanda sejumlah wilayah beberapa waktu terakhir.
Salah satu wilayah yang mengalami gagal panen cukup parah terjadi di Dusun Plebengan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul.
Lahan pertanian di tempat tersebut merata gagal panen, tidak hanya kali ini, namun setahun ini warga sudah gagal penen sebanyak dua kali.
"Sebelumnya tidak separah ini, kalau tahun ini kami sudah dua kali tanam gagal penen terus," jelas Kepala Dukuh Plebengan, Edi Gunarto, Jumat (14/10/2016).
Edi menyebut dua kali gagal penen yang dialami warga pertama kali terjadi Juni lalu, yang puncaknya terjadi pada pertengahan Ramadan.
Karena diterjang banjir, pascaIdul Fitri warga menanam lagi. Namun nahas, pertengahan September lahan warga kembali tergenang banjir untuk kedua kali.
"Padahal yang terakhir ini sudah mau panen, tapi karena kena banjir jadinya gagal semua," paparnya.
Di Plebengan sendiri saat ini terdapat sekitar 200 orang yang menggantungkan hidupnya di sawah. Karena diterjang banjir, sebanyak 22 hektare persawahan di dusun tersebut mayoritas gagal penen. Padahal selepas gagal panen Juni lalu, sudah banyak warga yang tak memiliki modal.
"Banyak barang milik warga yang hilang (untuk modal pertanian), rojokoyo dijual, ada juga yang motornya dijual," ungkapnya.
Salah satu petani di Plebengan, Supriadi menjelaskan akibat banjir yang menerjang persawahan milik warga, dirinya harus mengalami kerugian puluhan juta. Sementara untuk gagal panen kali ini, menurutnya lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya.
"Saya rugi Rp 35 juta," ujar anggota Poktan Sidomaju ini.
Adapun lahan pertanian yang digarap Supriadi saat terjadi banjir kesemuanya ditanami lombok. Bila tidak diterjang banjir, dirinya yakin jika dirinya masih bisa memanen lombok di sawah.
"Di tempat saya sudah hampir panen, tapi karena hujan dan banjir gagangnya pada layu, jadinya tanaman lombok pada mati," paparnya. "Memang setelah banjir saya sempat memanen lombok yang bisa diambil, tapi hasilnya tidak seberapa, banyak ruginya," imbuhnya.
Tak hanya Supriadi, warga Plebengan lainnya, Sumarwan, juga mengaku mengalami kerugian cukup besar. Keseluruhan akibat gagal panen tanaman lomboknya, ia rugi Rp15 juta.
Sebagai petani kecil yang minim modal, Sumarwan hanya berharap pemerintah bersedia memberikan ganti rugi atau bantuan kepada petani akibat puso ini.
"Kalau bisa diberikan bantuan untuk stimulan buat tanam padi," harapnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/gagal-panen_1410_20161014_174131.jpg)