Jumlah Spesies Anggrek Merapi Kian Susut Pasca-Erupsi 2010
Jumlah spesies anggrek yang tumbuh di wilayah lereng Gunung Merapi kian menurun jumlahnya pascaerupsi 2010.
Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Singgih Wahyu Nugraha
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Jumlah spesies anggrek yang tumbuh di wilayah lereng Gunung Merapi kian menurun jumlahnya pascaerupsi 2010.
Bahkan, populasi beberapa spesiesnya juga cenderung menyusut, termasuk jenis Vanda Tricolor Merapi yang merupakan varietas asli gunung tersebut.
Berdasarkan hasil inventarisasi Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), sebelum erupsi 2010 tercatat ada 70 spesies anggrek yang hidup di lereng Merapi.
Namun, selepas erupsi, jumlah spesiesnya menurun di bawah 50 jenis.
"Merapi memang jadi habitat anggrek. Namun, tidak di semua lokasi mengingat gunung ini secara periodik mengalami erupsi. Sebagian di lereng selatan terdampak ringan oleh erupsi sehingga relatif aman dan jadi habitat anggrek untuk berkembang," kata Kepala Balai TNGM, Edy Sutyarto, Selasa (11/10/2016).
Untuk mengembalikan populasi anggrek di Merapi, pihaknya pada 2015 lalu melakukan program adopsi Anggrek dengan menggandeng beberapa pihak yang menanam bunga tersebut di sana.
Ada 6 spesies yang ditumbuhkan, yakni Vanda tricolor, Eria hyactintoides, Dendrogium mutabile, Eria oblittecyta, Pholidota vertricora, dan Macropodhantis tesmarnii.
Selain di lereng selatan Merapi di wilayah Sleman, populasi anggrek disebutnya juga banyak terdapat di wilayah Deles (Magelang) dan Bukit Bibi atau lereng Merapi di wilayah Boyolali.
"Dengan model adopsi ini, diharapkan populasi anggrek di lereng Merapi bisa normal kembali," kata dia.
Ketua Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI), Endang Semiarti mengatakan, Vanda Tricolor Merapi menjadi satu jenis dari spesies anggrek tiga warna yang lahir dari Merapi.
Jenis ini memiliki ciri paduan warna ungu dengan totol (bintik) kecoklatan di bibir bunga, serta warna kekuningan di bagian tengah. Selain itu, Vanda Tricolor mengeluarkan aroma wangi yang kentara saat pagi hari.
"Semakin wangi dan semakin banyak totolnya, harganya bisa semakin mahal karena banyak dicari. Di tangan kolektor, harganya bisa sampai jutaan rupiah," kata dia.
Namun, keberadaan Vanda Tricolor Merapi di tengah masyarakat saat ini cenderung langka dan jarang dibudidayakan. Padahal, jenis anggrek ini punya potensi yang bagus untuk dikembangkan karena memiliki ciri khas.
"Vanda Tricolor Merapi ini kalau bisa lebih diangkat sangat bagus sekali. Bisa jadi ikon untuk DIY, khususnya Sleman," kata dia.
Untuk semakin mengenalkan potensi Vanda Tricolor, pihaknya bersama pengelola Taman Anggrek Titi Orchid di Pakem akan menggelar Festival Vanda Tricolor Var Suarvis, 15-16 Oktober 2016 ini. Festival akan diisi dengan pameran dna bursa anggrek, demo merangkai Vanda Tricolor, dan pelatihan budidaya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/anggrek-merapi_20161011_223221.jpg)