BPBD Sleman Segera Pasang Tiga EWS Baru
Hal ini sebagai langkah antisipatif terhadap potensi banjir lahar hujan seiring meningginya curah hujan belakangan ini.
Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: oda
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Tiga unit instrumen early warning system (EWS) akan di pasang di wilayah aliran sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam waktu dekat.
Hal ini sebagai langkah antisipatif terhadap potensi banjir lahar hujan seiring meningginya curah hujan belakangan ini.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Kunto Riyadi mengatakan, ada beberapa wilayah sungai yang akan dipasangi EWS tambahan.
Yakni, di hilir Kali Trasi yang merupakan intake Kali Boyong, di hulu Kali Kuning di wilayah Hargobinangun, serta di hulu Kali Krasak di Tunggularum.
"Kita tahu bahwa di atas sana (Merapi) masih ada sisa jutaan kubik material sisa erupsi. Curah hujan yang tinggi serta durasi lama berpotensi menyebabkan banjir, baik di sungai maupun banjir lahar hujan. Tentu ini harus terus dipantau," kata Kunto, Minggu (9/10/2016).
Adapun saat ini, sudah ada 9 unit EWS yang terpasang. Antara lain tiga unit di Kali Boyong, satu unit di Kali Opak, dan lima unit di Kali Gendol.
Dengan tambahan unit EWS tersebut, pihaknya berharap pemantauan terhadap potensi bencana bisa lebih optimal.
Pasalnya, beberapa sungai yang mengaliri wilayah Kota Yogya dan Bantul berhulu di Sleman, semisal Kali Code sebagai anak aliran Kali Boyong.
Meski saat ini aktivitas Merapi terbilang normal berdasar kajian dari BPPTKG, pihaknya memandang langkah kewaspadaan tetap perlu dilakukan.
Terutama kaitannya dengan potensi banjir lahar hujan seiring meningginya curah hujan. Di Kali Gendol, misalnya, potensi terjadinya lahar hujan terbilang cukup sering.
Untuk antisipasi semua potensi bencana itu, pihaknya menggandeng relawan pemantau sungai yang melakukan pemantauan visual ketika terjadi aliran.
"Informasinya nanti langsung diampaikan kepada Pusdalops BPBD Sleman untuk diteruskan pada pengambil kebijakan sehingga langkah selanjutnya bisa dilakukan lebih cepat. Saat ini ada 49 kelompok relawan dengan 1600 anggota yang cukup militan di lapangan," kata Kunto. (*)