Tak Sedikit Warga Bantul Tergiur Lipat Gandakan Uang ke Padepokan Dimas Kanjeng
Terbukti di Bantul terdapat dua warga ditengarai kepincut dan hingga kini masih bertahan di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi.
Penulis: usm | Editor: oda
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL – Janji dapat menggandakan uang ternyata menyilaukan banyak orang. Terbukti di Bantul terdapat dua warga ditengarai kepincut dan hingga kini masih bertahan di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Dua warga Bantul yang dimaksud yakni Ibu Partini, warga RT. 02 Dusun Sutopadan, Desa Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Bantul, dan Pak Lilik Yani Aryanto, warga RT 01, Dusun Kunden, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Bantul.
Berdasarkan penuturan dari salah satu keluarga Lilik yang tak mau dikorankan namanya, dirinya membenarkan jika Lilik dan sejumlah santri Dimas Kanjeng banyak yang masih bertahan di Padepokan.
Namun dirinya menyebut jika masih bertahannya Lilik bukan karena ia dari santri Dimas Kanjeng, melainkan Lilik hanya mengantar santri Dimas Kanjeng yang kini masih bertahan di Padepokan.
“Mas Lilik ini hanya driver, la gimana mau pulang jika yang diantar (santri Dimas Kanjeng) masih bertahan di sana,” jelasnya, saat Tribun Jogja menyambangi kediaman Lilik, Sabtu (8/10/2016).
Namun tatkala si sumber ditanya perihal santri yang diantar siapa saja, dirinya mengaku tak mengetahui. Namun yang pasti Lilik selama ini memang kedapatan mengantar sejumlah santri yang hendak datang ke Padepokan Dimas Kanjeng.
“Yang saya tahu santri itu ada yang dari Sleman, Gunungkidul, Kulonprogo, dan Yogyakarta,” paparnya.
Sejauh ini baru tiga kali Lilik mengantar santri ke Padepokan Dimas Kanjeng. Saat mengantar itu Lilik selalu mendapat bayaran dari santri itu.
Menurut si sumber, saat pertama kali mengantar Lilik mendapat honor driver Rp. 1,5 juta. Untuk yang kedua kali juga mendapat Rp. 1,5 juta, sementara yang terakhir Lilik mendapat Rp. 1 juta.
Interaksi Lilik dengan para santri Dimas Kanjeng menurut si sumber dimulai pasca lebaran. Setelah beberapa kali mengantarkan sejumlah santri, hubungan Lilik dengan santri yang diantar kian dekat.
Selepas hubungan Lilik makin dekat dengan para santri, terutama santri asal Sleman. Menurut si sumber kemudian Lilik ditawari untuk bergabung berinvestasi di Padepokan Dimas Kanjeng.
Akhirnya ajakan itu diiyakan oleh Lilik, namun karena Lilik tak punya uang, dirinya diminta sama santri asal Sleman itu untuk mencari massa yang mau menginvestasikan uangnya.
“Jadi mas Lilik cuma nyari orang, itupun diminta sama santri asal Sleman itu. Terus orang yang berminat nanti diikat janji oleh santri tersebut, nama janjinya akadan. Salah satu perjanjiaannya uang yang sudah diinvestasikan akan kembali berlipat ganda, tapi kalau tidak cair, uang tersebut akan dikembalikan ke warga dengan jumlah nominal yang sama,” ulasnya.
Meskipun Lilik bertugas mencari orang yang bersedia berinvestasi, si sumber menyebut jika dirinya tak mengetahui siapa saja yang kemudian berminat.
Akan tetapi saat disinggung berapa nominal yang disetor warga, menurutnya warga harus menyetor minimal Rp.50 ribu, dan paling banter Rp.100 ribu. “Minimal setor Rp.50 ribu, nanti dijanjikan balik Rp.5 juta,” ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/dimas-kanjeng_dgdfgh_20161003_205550.jpg)