Sejarah Antara Yogyakarta dan Trenggalek

Mengunjungi Makam Giriloyo dan Margoayu Trenggalek

Hubungan sejarah ini dapat dibuktikan dengan adanya sejumlah petilasan yang menjelaskan hubungan DIY dan Trenggalek, seperti Makam Giriloyo.

Penulis: Hamim Thohari | Editor: oda
tribunjogja/hamim thohari
Pintu gerbang komplek Makam Giriloyo Trenggalek 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Hamim Thohari

TRIBUNJOGJA.COM, TRENGGALEK - Trenggalek, sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur ini berada di pesisir selatan Pulau Jawa.

Letak goegrafisnya yang sama-sama berada di pesisir Selatan Jawa, menjadikan Trenggalek memiliki ikatan sejarah yang cukup kuat dengan Daerah Istimewa Yogyakarta, terutama Kasultanan Yogyakarta.

Hubungan sejarah ini dapat dibuktikan dengan adanya sejumlah petilasan yang menjelaskan hubungan DIY dan Trenggalek, seperti Makam Giriloyo.

Di makam yang berada di Desa Sumber, Kecamatan Karangan Trenggalek ini disemayamkan cucu Sultan Hamengkubuwono III yang bernama KRT Adipati Wijoyokusumo, dan cucu menantu HB VI bernama KRT Adipati Ario Poerbonegoro (yang juga anak KRT Adipati Wijoyokusumo).


Makam KRT Adipati Poerbonegoro. (tribunjogja.com/hamim thohari)

Dijelaskan Agus Prasmono selaku Kasi Pendidikan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Trenggalek, Wijoyokusumo sendiri adalah putera dari GPH Poerbonegoro (Putra Sultan HB III, bersaudara dengan Pangeran Diponegoro) yang pernah menjabat sebagai Bupati Ambal.

Putra GPH Poerbonegoro ini banyak yang menjadi bupati di daerah Kedu, Gombong, Kutoarjo, Kebumen, dan anaknya KRT Adipati Wijoyokusumo pernah menjadi Bupati Trenggalek dari tahun 1894 hingga 1904.

Kepemimpinan KRT Adipati Wijoyokusumo diteruskan anaknya KRT Adipati Ario Poerbonegoro yang menikah dengan cucu HB VI yakni BRA Beominoto dari tahun 1904 hingga 1932.

Sebelum menjabat bupati, cucu mantu HB VI ini bernama RM Widjoyo Soewondo.

Wijoyokusumo tidak hanya melahirkan KRT Adipati Ario Poerbonegoro, tetapi memiliki enam anak lagi dan salah satunya adalah RA Soemohardjo yang melahirkan seorang tokoh besar Indonesia, yakni Jenderal Urip Sumaharjo.


Makam Margoayu. (tribunjogja.com/hamim thohari)

Sebelum masa pemerintahan KRT Adipati Wijoyokusumo dan KRT Adipati Ario Poerbonegoro, Trenggalek juga di pimpin oleh Bupati yang masih ada kaitannya dengan Kasultanan Yogyakarta, yakni Raden Mangun Negoro atau yang juga dikenal dengan Kanjeng Jimat yang dimakamkan di makam Margoayu, Desa Ngulankulon, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek.

"Kanjeng Jimat adalah salah satu tokoh yang paling berjasa di Trenggalek. Beliau menjadi Bupati pertama pada masa Hindia Belanda dimana Trenggalek benar-benar menjadi kabupaten sendiri," jelas Agus Prasmono, beberapa waktu yang lalu saat mendampingi tim Travel Heritage Dinas Kebudayaan DIY.

Lebih lanjut Agus menceritakan Pada tahun 1830 setelah selesainya perang Diponegoro, wilayah Kabupaten Trenggalek, semula berada dalam wilayah kekuasaan Bupati ponorogo dan Kasunanan Surakarta dan di bawah kekuasaan Belanda.

Pada masa inilah Kabupaten Trenggalek memperoleh bentuknya yang nyata sebagai wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten versi Pemerintah Hindia Belanda.


Makam Kanjeng Jimat. (tribunjogja.com/hamim thohari)

Kanjeng Jimat yang meninggal pada tahun 1842 adalah keturunan dari Pakubuwono I atau Pangeran Puger yang kemudian hari melahirkan pemimpin di Kasunanan Surakarta, dan Kasultanan Yogyakarta.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved