Batik Bermotif Virus Pertama di Dunia Karya Alumni UNY

dia menggambarkan kekayaan budaya Indonesia melalui motif batik.

Batik Bermotif Virus Pertama di Dunia Karya Alumni UNY
Tribun Jogja/ M Resya Firmansyah
Miftahudin Nur Ihsan memamerkan inovasinya berupa batik bermotif virus. Foto diambil pada Jumat (30/9/2016). 

TRIBUNJOGJA.COM - Perkembangan motif batik terlihat makin pesat. Selain motif batik kontemporer, kini muncul pula batik bermotif klub sepakbola, dan motif batik bernada anak muda lainnya.

Namun apa jadinya jika pakaian batik bermotif virus HIV atau virus influenza? Tetapkah menarik?

Mencintai batik sejak kecil, membuat lulusan Universitas Negeri Yogyakarta, Miftahudin Nur Ihsan sewaktu masih berstatus mahasiswa sudah memulai mengembangkan berbagai motif batik. Ketika itu, dia menggambarkan kekayaan budaya Indonesia melalui motif batik.

“Misalnya untuk motif khas Yogya, saya masukkan tugu, wayang, gamelan, rumah jogja, dan keris sebagai motif batik. Ide itu, awalnya saya tuangkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) di tahun 2015,” ucap Ihsan, sapaan akrabnya, Minggu (2/10).

Seperti diketahui, PKM merupakan ajang untuk merealisasikan ide brilian mahasiswa yang dibiayai Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti). Dalam ajang itu, ide yang Ihsan beri nama Indonesian Culture in Batik (ICB) memperoleh medali perak.

Berawal dari memenangkan kompetisi itu, dia merintis sebuah usaha bernama Smart Batik Indonesia di tahun yang sama, yakni tahun 2015. Dengan modal sebesar Rp 5 juta yang berasal dari pinjaman kakeknya, dia memproduksi berbagai motif batik yang unik.

“Saya membuat batik bermotif pendidikan, kedokteran, transportasi, dan MIPA. Hingga saat ini, saya memproduksi sendiri dan memasarkan melalui media online, dan stand di kampus,” kata Ihsan yang lulus dari UNY di bulan Mei 2016 lalu.

Meski telah membuat berbagai motif batik yang sebelumnya tidak ada, namun inovasinya tak berhenti begitu saja. Baru-baru ini, Ihsan menciptakan batik bermotif virus berbahaya, HIV dan Influenza. Dia mengklaim, motif batik virus tersebut hanya ada satu di dunia.

“Saya mengombinasikan batik motif virus dengan jumputan. Saya ingin memberikan edukasi tentang bahaya virus ini kepada konsumen, dengan menyelipkan brosur informasi virus itu di dalam produk. Meski sedikit ekstrim, semoga produk ini bermanfaat,” katanya.

Ihsan pun mengungkapkan nantinya saat dipasarkan, harga batik jumput motif virus itu dengan ukuran 2 meter x 1,5 meter akan dipatok harga Rp 120 ribu hingga Rp 150 ribu. Harga relatif cukup mahal, menurutnya karena tak mudah membatik di kain jumputan.

Saat disinggung mengenai motivasi berwirausaha, dia mengaku bahwa dirinya berasal dari keluarga tidak mampu. Ayahnya bekerja sebagai operator jasa fotokopi, sementara ibunya bekerja sebagai penjahit. Ihsan dapat sekolah hingga perguruan tinggi karena beasiswa.

“Saat SMP, saya mendapat beasiswa. Saat kuliah, saya juga mendapat beasiswa bidikmisi. Dengan usaha ini, saya ingin membalas jasa orang tua yang dulu hutang kesana kemari. Saya ingin mengangkat keluarga dan adik-adik saya,” katanya.

Meski baru berjalan selama setahun, namun Smart Batik Indonesia telah mencatat prestasi yang membanggakan. Mulai dari Juara 1 Lomba Inovasi Bisnis Pemuda se-DIY, Juara 2 Pemuda Pelopor Yogyakarta, hingga Juara 1 Lomba Inovasi Teknologi Mahasiswa se-DIY.

“Per bulan, pendapatan rata-rata Smart Batik Indonesia mencapai Rp 9 juta hingga Rp 15 juta. Cukup baik untuk usaha baru,” tutup warga Wirobrajan, Yogyakarta itu. (*)

Penulis: mrf
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved