Sarung is New Denim
Indonesian Fashion Chamber (IFC) mengkampanyekan kreasi sarung dalam fashion sehingga bisa digunakan untuk ke berbagai acara.
Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Seiring perkembangannya, sarung kini bisa dikreasikan dalam berbagai bentuk.
Indonesian Fashion Chamber (IFC) mengkampanyekan kreasi sarung dalam fashion sehingga bisa digunakan untuk ke berbagai acara.
Tidak perlu ditanyakan lagi betapa mengenalnya masyarakat Indonesia dengan sarung.
Tahun ini, IFC mengeksplorasi sarung sebagai sumber inspirasi yang mengakar dalam adat dan tradisi di Indonesia.
Sarung yang selama ini lebih dekat ke laki-laki, mulai dimodifikasi sedemikian rupa hingga cocok dikenakan wanita.
Biasanya, penggunaannya sangat sederhana, cukup selembar kain yang diikat dengan teknik ikat tertentu untuk menjadi bawahan.
Bawahan ini tentunya bisa dipadu padankan dengan atasan senada atau sesuai selera pemakainya.
Rupanya, sarung tidak hanya dikenal di Indonesia, melainkan juga di negara Asia lainnya dan Afrika.
Style pemakaian sarung di negara-negara tersebut pun berbeda-beda. DI Myanmar misalnya, laki-laki memakai sarung dengan teknik lilitan sederhana.
Sarung yang didominasi warna hitam, biru tua dan hijau tua banyak ditemui dalam berbagai kesempatan.
Lebih Rumit
Berbeda dengan Sukun Mali di Afrika yang mengenakan sarung sebagai busana sehari-hari dengan teknik yang lebih rumit.
Baik pria dan wanita, keduanya menggunakan sarung dengan cara pemakaian bertumpuk-tumpuk lebih dari satu sarung atau layering.
Suku di Afrika juga terlihat lebih berani dalam bermain warna sarung, misalnya menggunakan warna kuning, biru, merah, orange, hijau.
Begitupula dengan motif-motif geometris sederhana yang mengandung unsur sejarah dari kepercayaan mereka.
Motif yang merepresentasikan simbol-simbol tertentu tersebut biasanya dibuat dari stempel atau lukis.
Di Indonesia, sarung dikenal pada era sebelum kemerdekaan sebagai baju para santri.
Tidak jarang, sarung juga dikenakan pada saat beribadah di masjid atau digunakan sebagai busana saat menghadiri acara adat dan tradisi mislanya kenduri, selamatan, dan lain-lain.
Setelah tahun 1945, trend fashion Indonesia sedikit banyak berkiblat kebarat-baratan dengan meninggalkan sarung.
Mulai saat itu, masyarakat Indonesia mulai banyak menggunakan celana, kemeja, jas, dan lain-lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/sarung_dgfg_20160922_155451.jpg)