Pasutri Ini Punya Cara Tergila Mendidik Anak
Pasangan asal Inggris ini memiliki cara gila mendidik anak: mengajak mereka keliling dunia.
Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM - Sekarang ini banyak ragam pilihan orangtua untuk menyekolahkan anaknya. Mulai dari sekolah reguler hingga home schooling.
Namun pasangan asal Inggris ini memiliki cara gila mendidik anak: mengajak mereka keliling dunia.
Pasangan ini memilih mengelilingi dunia daripada menyekolahkan anak-anaknya karena mereka merasa bahwa mereka tidak dapat menemukan sekolah yang bagus. Paul (39) dan Caroline King (35) yang bertemu ketika sedang berlibur telah menghabiskan 19 bulan terakhir dengan mengajak anak mereka Winston (6) dan Henry (4) ke 15 negara.
Mereka mengklaim bahwa anak laki-laki mereka lebih maju dari anak-anak lain seusianya dan setelah melihat 20 sekolah untuk anak tertuanya yakni Winston mereka membuat keputusan yang mengubah hidupnya.

Setelah menjual rumah mereka beserta isinya senilai sekitar Rp 8 miliar mereka sekarang mendidik sendiri anak-anaknya dan tidak berencana untuk berhenti.
Berbicara kepada The Sunday Mirror, Paul King yang berasal dari Cambridge mengatakan bahwa mereka tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk pergi ke solah ataupun mengikuti ujian.
Pasangan ini bertemu pertama kalinya ketika sedang berlibur di Kashmir pada 2003 dan kemudian tinggal di Gothenburg, Swedia dimana Caroline berasal. Pada awalnya Caroline mempertimbangkan ide ini ketika Winston mengatakan bahwa ia bosan di tempat penitipan anak dan sedang belajar membaca pada usia setahun.
Setelah memulai perjalanan mereka di Rumania, kemudian ke Dubai, keluarga tersebut kemudian mengunjungi Maladewa, Malaysia, Indonesia, Thailand, Laos, Amerika Serikat, Kolombia, Spanyol, Mesir, Italia, dan Republik Ceko.

Paul sendiri memiliki usaha yang diberi nama Hammock Heaven dimana dia memproduksi tempat tidur gantung di suatu gudang di Cambridgeshire. Namun usaha ini dijalankannya dari jauh untuk membiayai gaya hidupnya ini.
"Terkadang, rasanya mereka tidak sedang mempelajari sesuatu. Mereka tidak terpesona pada piramida dan ketika kami melihat ampiteater Romawi mereka berkata hal itu membosankan," kata Paul.
Namun, lanjutnya, kemudian anak-anak tersebut mulai membicarakan apa yang telah mereka lihat sehingga ia dan istrinya tahu bahwa hal itu berkesan untuk anak mereka.
"Suatu pagi mereka bangun dan minta kembali ke Mesir. Mengapa harus membaca tentang sejarah dan kebudayaan jika Anda dapat mengalaminya langsung?" kata Paul.
Paul dan Caroline melakukan proyek (edukasi) berdasarkan kunjungan-kunjungan mereka dan tidak memberikan tekanan pada anak-anaknya. Mereka menghabiskan musim panas di Praha namun berencana pergi ke Islandia atau Australia berikutnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pasutri1_20160919_204420.jpg)