Kembangkan Potensi Anak Lewat Proses Riset

Sekolah yang bernama Sanggar Anak Alam (Salam) tersebut hari ini sedang menggelar acara Pasar Ekspresi Anak Merdeka.

Penulis: app | Editor: oda
tribunjogja/arfiansyah panji
Suasana Pasar Ekspresi ke sembilan di Sanggar Anak Alam (Salam) Nitiprayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Sabtu (17/9/2016). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Arfiansyah Panji Purnandaru

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Membentuk karakter generasi penerus bangsa merupakan pekerjaan rumah klasik yang dialami bangsa Indonesia.

Berganti menteri maka berganti pula kurikulum, merupakan cerminan kegagapan pendidikan di Indonesia. Seakan terus mencari metode yang tepat, faktanya tak hanya pengajar dan orangtua, namun tentunya murid dibuat pusing dengan kebijakan tersebut.

Tampak bangsa ini lupa, bahwa hakikatnya sekolah adalah waktu luang. Waktu yang diisi dengan berbagai macam permainan yang membentuk karakter anak.

Bukannya mebebankan anak dengan seabrek pekerjaan rumah dan tumpukan buku yang menghambat pertumbuhan anak karena berat tas yang keterlaluan.

Lagu Indonesia Raya tampak menggema, dengan semangat anak-anak penerus bangsa menyanyikan lagu ciptaan WR Soepratman tersebut.

Di sekolah yang terletak di tengah sawah Nitiprayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, tersebut tampak tidak hanya anak-anak yang belajar, orangtua juga ikut menimba ilmu, Sabtu (17/9/2016).

Sekolah yang bernama Sanggar Anak Alam (Salam) tersebut hari ini sedang menggelar acara Pasar Ekspresi Anak Merdeka. Acara yang sudah dimulai sejak 2012 tersebut merupakan gelaran yang ke sembilan.

Seperti namanya yaitu "ekspresi", acara tersebut menampilkan berbagai pertunjukan seni. Ada yang bernyanyi, bermain alat musik dan ada pula yang menari. Tak hanya itu, hasil riset para anak-anak juga ditampilkan bersama stand-stand makanan sehat yang diolah anak-anak dan orangtua.

Salah satu contohnya adalah minuman jeruk peras, pop corn, tahu bakso dan lain sebagainya merupakan hasil dari riset yang telah dilakukan anak-anak tersebut.

Pengajar yang disebut fasilitator dalam Salam, juga turut serta dalam stand tersebut dengan menjual es krim dan lukisan batu. Tidak ketinggalan orangtua juga ikut berpartisipasi seperti stand kopi yang diolah langsung dan berbagai stand menarik lainnya.

"Jeruk peras itu hasil riset anak. Mereka riset bagaimana cara membuat jeruk peras yang enak untuk komposisinya. Kalau kamu pengen menulis ya cari tentang menulis, begitu contohnya," ujar Bima Batutama Ketua Panitia dan Orangtua siswa.

Wisnu Wardana, Orangtua siswa lainnya mengaku tidak mudah meyakinkan keluarga bahwa ia mantab menyekolahkan anaknya di Salam.

"Menjadi aneh, padahal ini adalah langkah tepat di mana anak jangan di paksa-paksa mengikuti mau orang tua. Biarkan berproses" jelas Wisnu yang merupakan jurnalis tersebut.

Menurut Wisnu, dengan membiarkan anak berproses maka hasil akan mengikuti. Karena yang terjadi selama ini banyak orangtua yang menginginkan hasil secara instan.

Meski berprofesi sebagai jurnalis, Wisnu pun tidak mengarahkan anaknya mengikuti jejaknya. Dengan beproses, terbukti anaknya mampu mencari apa yang diinginkan salah satunya menggambar.

"Pengarahan saya sebatas pada kontrol pada anak-anak," tambahnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved