Pesan "Keris Sakti" di Empu Keturunan Majapahit Ini Daftar Tunggunya Hingga 1,5 Tahun
Empu Sungkowo sang pemilik padepokan merupakan keturunan ke-17 dari Empu Supodriyo, salah satu pembuat keris pada zaman Kerajaan Majapahit.
Penulis: akb | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dentang suara besi beradu terdengar dari salah satu ruang di rumah milik Empu Sungkowo Harumbrojo.
Suara itu memecahkan kesunyian salah satu sudut di Dusun Gatak, Desa Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman.
Saat memasuki ruangan milik Empu pembuat keris terlihat dua orang panjak (pembatu empu), Pardi dan Parno.
Merekan tampak sedang sibuk menempa lempeng besi berwarna kemerahan yang dipanaskan.
Lempeng besi yang dipanaskan menggunakan arang itu nantinya dijadikan bahan pembuatan keris.
Padepokan Seni Tempa Pamor Ki Empu Sungkowo Harumbrojo menjadi daya tarik tersendiri bagi desa wisata kerjaninan bambu di Sleman.
Empu Sungkowo sang pemilik padepokan merupakan keturunan ke-17 dari Empu Supodriyo, salah satu pembuat keris pada zaman Kerajaan Majapahit.
Gelar empu yang dipakainya bukanlah gelar yang diturunkan dari ayahnya, Empu Djeno Harumbrodjo.
Gelar empu diperoleh dengan ketekunan dan pengalamannya sebagai pembuat keris selama lebih dari 30 tahun.
Kesabaran
Sebagai pembuat senjata asli Jawa, Empu Sungkowo masih memegang teguh tradisi.
Dalam pembuatan keris, ia tidak lupa melakukan tirakat dan menyediakan sesaji, atau yang disebutnya sedekah. Namun syarat paling utama menurutnya adalah kesabaran.
"Paling penting itu nomer satu, kesabaran. Tidak gampang emosi, saat emosi harus berhenti dulu. Itu sudah syarat utama," ujar Empu Sungkowo.
Disamping hasil keris yang kurang baik, menurutnya emosi pembuat keris dapat memperngaruhi aura keris menjadi tidak baik.
Setelah melalui tahapan ritual, empu akan melakukan pemilihan bahan yang sesuai dengan model pesanan pelanggannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/keris-sakti_dfgdfh_20160915_214242.jpg)