Kebiasaan Peternak Pengaruhi Lambannya Reproduksi Sapi

Gangguan reproduksi sapi indukan merupakan masalah serius yang harus dihadapi peternak.

Penulis: ang | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Angga Purnama
Petugas kesehatan hewan sedang memeriksa rahim sapi di Desa Granting, Jogonalan, Selasa (9/8/2016). Pola pemeliharaan yang tidak tepat seringkali membuat reproduksi sapi betina terhambat. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Angga Purnama

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Gangguan reproduksi sapi indukan merupakan masalah serius yang harus dihadapi peternak. Namun masalah tersebut seringkali justru karena pola pemeliharaan yang dilakukan oleh peternak.

Penyuluh Balai Besar Veteriner (BBVet) Yogyakartam Siwi Susiloningrum mengatakan pola pemiliharaan sapi indukan yang dilakukan oleh peternak acapkali dipengaruhi kebiasaan yang sudah dilakukan selama turun temurun.

Kebiasaan tersebut lantas menjadi pijakan dalam memelihara sapi.

“Padahal tidak semua kebiasaan yang dilakukan tersebut benar. Di sisi lain, kebiasaan yang dilakukan banyak yang justru dapat menyebabkan gangguan pada reproduksi sapi dan berimbas pada perkembangan sapi itu sendiri,” ungkapnya saat meninjau kandang milik kelompok ternak Sedyo Rahayu, Granting, Jogonalan, Selasa (9/8/2016).

Ia mencontohkan kebiasaan peternak yang enggan memisahkan anak sapi dari induknya bahkan melebihi usia yang direkomendasikan, yaitu maksimal empat bulan.

Akibatnya anak sapi tersebut terus menyusu pada induknya hingga berimbas pada mundurnya masa evolusi uterus.

“Masa evolusi uterus pada sapi dewasa sekitar 3 bulan, namun jika tidak segera dipisah (anak dari induknya) dapat berimbas pada produksi sel telur dan hormon yang dibutuhkan sapi indukan untuk berepoduksi. Kondisi ini terjadi lantaran hormon induk sapi terus memproduksi susu dan bukannya sel telur karena terus menyusui,” katanya.

Menurutnya hal semacam itulah yang terus dikikis agar peternak lebih memahami dan dapat meningkatkan hasil. Saat ini Pemerintah Pusat terus berupaya menekan gangguan reproduksi ternak sapi. Program yang dinamai Gangrep (Penanganan Gangguan Reporduksi) itu sudah dimulai sejak 2015 silam.

“Saat ini kami melakukan peninjauan sebagai bagian dari evaluasi program. Secara umum berjalan cukup baik dan peternak secara aktif turut mendukung program ini,” paparnya. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved