Dispertan Klaten Kembangkan Varietas Padi Raja Lele Cepat Panen

Benih yang dikembangkan saat ini memiliki masa tanam sekitar 4 bulan

Penulis: ang | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Angga Purnama
Petani di Desa Kurung, Ceper sedang mempersiapkan benih yang siap ditanam, Rabu (20/7/2016). Varietas padi raja lele kurang diminati oleh petani 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Angga Purnama

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Dinas Pertanian (Dispertan) Klaten bekerja sama dengan Badan Tenaga Nuklir (Batan) mengembangkan benih padi raja lele yang memiliki umur panen yang lebih singkat. Hal tersebut agar kembali menarik minat petani untuk menanam varietas unggulan ini.

Kepala Dispertan Klaten, Wahyu Prasetyo mengatakan benih yang dikembangkan saat ini memiliki masa tanam sekitar 4 bulan atau lebih cepat daripada benih raja lele sebelumnya dilakukan rekayasa teknologi nuklir. Benih baru tersebut sudah mulai ditanam di sejumlah wilayah pertanian Klaten.

"Saat ini ditanam untuk pengembangan sebagai benih. Selanjutnya akan disebarluaskan kepada petani," ungkapnya, Rabu (20/7/2016).

Menurutnya upaya tersebut dilakukan agar varietas padi raja lele dengan kualitas lebih unggul, dapat lebih familiar di kalangan petani. Dengan demikian, varietas ini dapat kembali populer di tengah masyarakat, baik konsumen maupun petani.

"Harapan kami, produksi padi raja lele semakin meningkat. Karena raja lele merupakan salah satu produk unggulan Kabupaten Klaten di sektor pertanian," paparnya.

Kendati demikian, diakuinya benih baru hasil kerja sama dengan Batan itu masih memiliki kelemahan. Antara lain tanaman yang masih terlalu tinggi, sehingga rentan terhadap cuaca buruk, terutama angin kencang.

"Kondisi ini memang masih dikeluhkan petani. Terutama saat cuaca yang tidak dapat diprediksi seperti saat ini. Untuk itu, kami terus melakukan penelitian agar dihasilkan varietas raja lele yang sesuai dengan kondisi lingkungan di Klaten saat ini," kata dia.

Ke depan, kata Wahyu, pihaknya berharap terealisasi lahan tanam padi raja lele seluas 4 sampai 5 hektare di setiap desa. Dengan luas lahan tersebut, diharapkan mampu memenuhi kebutuhan di sektor lokal.

"Itu target pengembangan lanjutan. Saat ini yang terpenting petani kembali minat menanam varietas ini," ujarnya.(*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved