Batan Kembangkan Padi Sidenuk Unggulan di Klaten

Varietas padi unggulan ini diklaim dapat menghasilkan panen yang lebih berlimpah.

Penulis: ang | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Angga Purnama
Jajaran Muspida Klaten dan Batan melakukan panen bersama di demplot pengembangan padi unggulan di Desa Sentono, Karangdowo, Kamis (14/7/2016) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Angga Purnama

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Badan Teknologi Nuklir (Batan) mengembangkan varietas padi unggulan, Sidenuk, yang ditanam di wilayah Klaten. Varietas padi unggulan ini diklaim dapat menghasilkan panen yang lebih berlimpah.

Bibit padi yang sedang dikembangkan dalam program Agro Techno Park (ATP) itu dikembangkan melalui rekayasa teknologi nuklir khusus pertanian. Melalui rekayasa tersebut, Deputi Kepala Batan Bidang Pendayagunaan Teknologi Nuklir, Hendig Winarno mengatakan pada satu malai tanaman padi dapat berisi hingga 300 bulir padi. Sedangkan pada jenis padi yang sama tanpa melalui rekayasa tersebut hanya menghasilkan rata-rata 220 bulir padi pada satu malai.

"Saat ini terus dikembangkan jenis padi yang unggul. Dari hasil yang ada, terus kami teliti untuk meningkatkan peluang menjadi bibit lebih unggul lagi," katanya saat ditemui pada panen padi program ATP di Sentono, Karangdowo, Kamis (14/7/2016).

Menurutnya dengan rekayasa teknologi nuklir yang diterapkan pada tanaman padi, mampu membawa keuntungan bagi petani. Pasalnya petani diuntungkan dengan hasil panen yang lebih banyak.

"Rata-rata panen untuk lahan satu hektare dapat mencapai 9 hingga 10 ton. Hasil ini bukan final, dan akan terus dilakukan penelitian hingga bisa melebihi range yang dicapai saat ini," ujarnya.

Kepala Batan, Djarot Sulistio Wisnu Broto yang hadir dalam kesempatan tersebut mengatakan pengembangan teknologi nuklir pada bidang pertanian merupakan dukungan terhadap ketahanan pangan nasional yang digagas oleh pemerintah pusat.

Sementara, alasan Klaten dipilih sebagai salah satu wilayah pengembangan lantaran tingginya antusiasme masyarakat petani dalam melaksanakan program tersebut.

"Evaluasi tidak hanya dilakukan pada tingkat penelitian saja. Namun juga mendengar masukan dari petani sebagai pelaku," katanya.

Pada pelaksanaan program ATP, pengembangan tanaman padi unggulan dilakukan di beberapa desa. Di antaranya Sentono, Ngolodono, dan Karangwungu; Kecamatan Karangdowo, serta Puluhan; Kecamatan Trucuk dengan total lahan 275 hektare.

Adapun varietas padi yang dikembangkan dalam kegiatan ATP meliputi Diah Suci, Cilosari, Inpari Mughibat, Unsrat 1, Unsrat 2, Inpari Sidenuk, Merauke, Woyla, dan Bestari.

Sedangkan empat varietas padi yang sudah ditangkarkan tahun ini mencakup Cilosari, Inpari Sidenuk, Woyla, dan Bestari di areal seluas lima hektare. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved