Daya Saing UMKM di DIY Masih Rendah

Berdasar riset Pusat Studi Asean pada tahun 2014, sektor UMKM di DIY belum siap untuk menghadapi MEA. Disebabkan karena beberapa hal.

Penulis: dnh | Editor: oda

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh pelaku UMKM di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Namun melihat kondisi yang ada saat ini, belum semua pelaku UMKM siap untuk itu.

Diberitakan Tribun Jogja sebelumnya, beberapa UMKM yang sudah seharusnya berkembang justru masih berkutat dengan masalah modal dan pemasaran. Meski produk UMKM tersebut sudah bisa menembus pasar luar negeri.

Pengamat ekonomi kerakyatan Universitas Gadjah Mada, Hempri Suyatna mengatakan bahwa berdasar riset Pusat Studi Asean pada tahun 2014, sektor UMKM di DIY belum siap untuk menghadapi MEA. Disebabkan karena beberapa hal.

“Ya seperti belum ada modal, dari sisi teknologi, dari sisi pasar juga terbatas. Sehingga menjadi kendala, daya saing masih sangat lemah sehingga UMKM belum siap,” ujarnya belum lama ini.

Dari sisi pemerintah, menurutnya juga belum menunjukan kesiapan. Seperti sosialisasi MEA yang dirasa hanya bersifat sporadis dan tidak dilakukan dengan tertata. Sehingga masih banyak yang belum tersentuh. Ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pemerintah.

Belum lagi menurutnya beberapa mandat seperti pembentukan komite MEA di setiap daerah belum dilakukan.

“Sampai sekarang di DIY belum punya (komite MEA), roadmap menghadapi MEA juga DIY belum punya, jadi program pengembangan UMKM terkesan sporadis, asal jalan tetapi tidak ada roadmap yang jelas,” katanya.

Sementara itu Kepala Bidang UMKM, Dinas Koperasi dan UKM DIY Agus Mulyono mengatakan bahwa tantangan dalam menghadapi MEA adalah bagaimana meningkatkan kapasitas dan kualitas UMKM. Dari sisi Dinas, menurutnya UMKM bisa bersaing.

Namun perlu ada penguatan UMKM sebelum bersaing dengan produk luar.

“Sebelum dia mau kesana, tetapi bagaimana mempertahankan yang di sini dulu sampai bisa bersaing. Kalau selama ini bersaing dengan antar kabupaten aja sudah kalah bagaimana bersaing dengan mereka,” jelasnya.

“Tuntutan dikita (bagi dinas) mungkin meningkatkan pelatihan-pelatihan yang menarik, seperti IT pemasaran online,” jelasnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved