Ramadan 1437

Ada Makna Pancasila di Masjid Keraton Soko Tunggal

Jemaah akan melihat 4 batang saka bentung dan 1 batang saka guru sehingga semua berjumlah 5 buah.

Penulis: Hamim Thohari | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Hamim Thohari
Sesuai dengan namanya, Masjid Keraton Soko Tunggal hanya memiliki satu buah Soko Guru (tiang penyangga utama) 

Hal ini merupakan lambang negara Pancasila. Saka guru merupakan lambang sila yang pertama, yakni Ketuhanan Yang Mahaesa. Usuk sorot (memusat seperti jari-jari payung), disebut juga peniung, merupakan lambang kewibawaan negara yang melindungi rakyatnya.

Soko guru yang digunakan adalah kayu jati yang berukuran 50 cm x 50 cm yang didatangkan dari daerah Cepu. Saat ditebang, umur kayu jati tersebut telah mencapai 150 tahun.

Sedangkan umpak (batu penyangga tiang) berasal dari petilasan Sultan Agung Hanyokrokusuma yang dahulu berkedudukan di Pleret Bantul.

Di masjid ini juga terdapat beragam ukir-ukiran. Ukiran ini selain dimaksudkan untuk menambah keindahan dan kewibawaaan, juga mengandung makna dan maksud tertentu.

Ukiran praba, berarti Bumi, tanah, kewibawaan. Ukiran saton berarti menyendiri (sawiji). Ukiran Sorot berarti sinar cahaya matahari.

Tlacapan berarti panggah, yaitu tabah dan tangguh. Ceplok-ceplok berarti pemberantas angkara murka. Ukiran mirong berarti maejan atau nisan, yang memiliki maksud bahwa semuanya kelak pasti dipanggil oleh Allah.

"Sedang untuk ukiran tetesan embun di antara daun dan bunga yang terdapat di balok uleng berarti siapa yang salat di masjid ini semoga mendapat anugerah Allah," cerita Hadjir.

Dari aspek konstruksi, bangunan masjid Sokotunggal ini juga sarat makna. Dalam konstruksi masjid itu ada bagian yang berbentuk bahu dayung.

Ini melambangkan, orang-orang yang salat di masjid ini menjadi orang yang kuat menghadapi godaan iblis angkara murka yang datangnya dari empat penjuru dan lima pancer.

Kontruksi lainya seperti Sunduk berarti menjalar untuk mencapai tujuan. Santen berarti bersih suci (kejujuran). Uleng artinya wibawa.

Singup artinya keramat, Bandoga artinya hiasan pepohonan, tempat harta karun. Tawonan berarti gana, manis, penuh.

Rangka-rangka masjid yang dibentuk sedemikian rupa juga memiliki makna. Saka brunjung melambangkan upaya mencapai keluhuran wibawa melalui lambang tawonan. Dudur adalah lambang ke arah cita-cita kesempurnaan hidup melalui lambang bandoga.

Balok/Saka Bindi lambang mencapai cita-cita kesempurnaan hidup melalui lambang gonjo.

Sirah gada, melambangkan kesempurnaan senjata yang ampuh, sempurna baik jasmani dan rohani. Mustaka digunakan untuk melambangkan keluhuran dan kewibawaan. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved