Ribuan Pengunjung Padati Pemandian Cokro untuk Padusan

Ribuan pengunjung dari berbagai daerah memadati Obyek Mata Air Cokro (OMAC) dalam pelaksanaan tradisi padusan, Minggu (5/6/2016)

Penulis: ang | Editor: Ikrob Didik Irawan

Laporan reporter Tribun Jogja, Angga Purnama

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN – Ribuan pengunjung dari berbagai daerah memadati Obyek Mata Air Cokro (OMAC) dalam pelaksanaan tradisi padusan, Minggu (5/6/2016).

Obyek wisata tersebut menjadi andalan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten saat tradisi ini digelar.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Klaten, Joko Wiyono mengatakan dalam perayaan tradisi padusan ini, pihaknya menggelar upacara siraman yang diikuti Mas Mbak Klaten.

Upacara tersebut bermakna sebagai simbol penyucian diri sebelum melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan.

“Kegiatan ini digelar sebagai bagian dari pelestarian budaya yang sudah berlangsung secara turun temurun. Selain itu, kegiatan ini juga untuk mengoptimalkan potensi wisata di Kabupaten Klaten,” ungkapnya.

Menurutnya dalam gelaran tradiri padusan ini pihaknya menargetkan pemasukan ke daerah hingga Rp 58 juta dari tiket masuk OMAC. Sedangkan jumlah pengunjung yang datang ditargetkan mencapai sepuluh ribu pengunjung.

“Guna mencapai target tersebut, kami juga menggelar berbagai macam hiburan untuk memeriahkan tradisi padusan. Salah satunya kami mengundang Orkes Musik Sera, selain itu juga ada kesenian lokal seperti musik calung dan tarian tradisional,” paparnya.

Dengan antusiasme pengunjung saat even padusan tahun ini, Joko optimis target tersebut dapat tercapai. Ke depannya, pihaknya akan meningkatkan sejumlah fasilitas guna menunjang wisata di OMAC.

“Kami optimis tercapai, kebetulan saat ini bertepatan dengan libur weekend. Inovasi akan terus kami lakukan, mengingat OMAC merupakan salah satu potensi wisata andalan yang ada di Kabupaten Klaten,” katanya.

Sementara itu, Bupati Klaten, Sri Hartini mengatakan tradisi padusan memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat. Hal ini lantaran padusan dapat dimaknai sebagai persiapan diri baik secara fisik maupun spiritual.

“Di sisi lain, keberadaan tradisi ini juga menjadi salah satu peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya dalam bidang ekonomi. Dapat dilihat pergerakan roda ekonomi dari sekitar OMAC saja. Untuk itu, kami berharap tradisi ini dapat terus dilestarikan,” ungkapnya. (tribunjogja.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved