Camping dan Berwisata Alam di Desa Wisata Tinalah, Tempat Persembunyian Diponegoro

Bagi pengunjung yang ingin belajar kesenian tradisional, semisal gamelan dan gejug lesung, pengelola juga menyiapkan.

Penulis: Hamim Thohari | Editor: Ikrob Didik Irawan
ist/ Agung Fitra Yudha

Laporan Reporter Tribun Jogja, Hamim Thohari

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Sebagai daerah yang menjadikan sektor wisata sebagai andalannya, beragam potensi dan jenis wisata dikembangkan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Saat ini yang berkembang cukup pesat di Yogyakarta adalah desa wisata.

Semua kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini memiliki desa wisata, dan jumlahanya pun cukup banyak dengan potensinya masing-masing. Dan satu diantara banyaknya desa Wisata tersebut adalah Desa Wisata Tinalah.

Berada di Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, desa wisata yang akrab dengan Sebutan Dewi (Desa Wita) Tinalah ini menjadikan keindahan alam yang ada di daerahnya sebagai andalan.


ist/ Agung Fitra Yudha

Berada di wilayah perbukitan Menoreh dengan aliran sungai Tinalah menjadikan desa ini memiliki keindahan alam yang mempesona.

Deretan bukit yang hijau, area persawahan, dan aliran sungai berbatu berpadu menjadi bentang alam yang sangat memanjakan mata. Ada juga potensi wisata alam berupa gua Sriti yang memiliki kedalaman sekitar 70 meter.

Dijelaskan Panggeh Widodo, selaku Ketua Desa Wisata Tinalah, berbekal potensi yang ada pada tahun 2013 masyarakat Tinalah merintis desa wisata.

"Sebelumnya pada tahun 2011 yang lalu, di wilayah desa kami ini mau dibangun waduk, tetapi masyarakat keberatan. Jadi setelah keberatan kami diterima, kami mencoba mengembangkan potensi yang ada di wilayah kami," jelas Panggeh.

Desa wisata ini sangat cocok dikunjungi bagi mereka pecinta alam.

Sejumlah fasilitas telah disediakan pengelola, mulai dari dua buah area camping ground, dua buah pendopo, kamar mandi, permainan outbond, musala, hingga tenda.


ist/ Agung Fitra Yudha

Biasanya wisatawan yang datang ke Dewi Tinalah adalah rombongan baik mahasiswa, pelajar, ataupun rombongan instansi.

"Ada beragam kegiatan yang kami siapkan bagi para pengunjung, seperti susur sungai Tinalah, tracking bukit, outbond, dan beberapa kegiatan lainnya," kata Panggeh.

Bagi pengunjung yang ingin belajar kesenian tradisional, semisal gamelan dan gejug lesung, pengelola juga menyiapkan.

Yang juga spesial adalah wilayah Dewi Tinalah dulunya pernah dijadikan tempat persembunyian Pangeran Diponegoro dan mengatur strategi perang.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved