Kisah Airra, Bocah Mungil yang Berjuang Melawan Penyakit Atresia Bilier

Penyakit itu membuat racun fungsi kerja hati Aira tidak berjalan semestinya. Perut Airra kecil membuncit

Penulis: akb | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Jihad Akbar
Airra bermain di kereta bayi bersama ayahnya, Nuryawan. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Raut wajah terlihat penuh penasaran terpancar dari gadis kecil bernama Almaghfira Alfia Azzahra (1) saat melihat orang yang belum dikenalnya mengunjungi di kamar tempatnya menginap.

Airra, panggilan gadis kecil itu, saat ini terpaksa harus menginap di kamar nomer 5 ruang perawatan anak Melati 1 RSUP Dr Sardjito.

Ia menderita peyakit atresia bilier yaitu penyumbatan pada saluran yang membawa cairan empedu dari hati ke kantung empedu.

Penyakit itu membuat fungsi kerja hati Aira tidak berjalan semestinya. Perut Airra kecil membuncit, bahkan pernah mencapai ukuran lingkar perut 60 centimeter.

Selain itu, warna kulit serta mata menguning terlihat jelas pada Airra.

Dalam kereta bayi tempatnya biasa bermain tali rafia, gadis kecil itu terlihat lemas karena penyakit yang dideritanya. Guna menyembuhkannya, Airra harus menjalani operasi transpalasi hati.

Gadis kecil itu, merupakan anak pertama dari pasangan Nuriyawan (28) dan Ermi Yose (27), warga asal Mangunan, Dlingo, Bantul.

Airra terlahir di tanah perantauan di daerah Kalimantan Selatan, 19 Mei 2015. Sebelum menjalani perawatan di RSUP Sardjito, Airra harus berpindah-pidah rumah sakit di beberapa daerah.

Empat Hari

Ermi, ibunda Airra menceritakan, kejanggalan akan penyakit yang mendera Airra diketahui sejak berumur empat hari. Saat itu, kulit Airra terlihat menguning.

Kekhawatiran mulai mucul dibenak Ermi dan suaminya. Mereka kemudian memeriksakan Airra ke seorang dokter spesialis di daerah Kalimantan Selatan.

"Saat itu dokternya menduga kuning karena kurang cairan atau nutirsi dan menyarankan untuk dijemur. Dijemur memang hilang, tapi dua bulan kemudian muncul kembali kuning," ungkapnya.

Kulit Airra yang menguning membuat Ermi khawatir kembali. Ia selanjutnya melakukan konsultasi di Posyandu tidak jauh dari rumah.

Di Posyandu itu, Ermi disarankan untuk memeriksakan kembali Airra ke dokter spesialis yang berbeda. Ermi bersama suaminya lalu membawa Airra ke dokter spesialis kedua.

Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter tersebut mendapati jika ada kemungkinan penyakit serius yang diderita Airra.

Kemudian dokter itu merujuk Airra ke RSUD untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Airra menjalani pemeriksaan intensif selama sehari semalam.

Dokter RSUD mendapati dugaan jika penyakit yang diderita Airra mengarah pada penyakit atresia bilier.

"Tapi karena alatnya belum lengkap kemudian di rujuk ke rumah sakit di Banjarmasin, Airra masuk pas malam takbir Lebaran tahun lalu (2015)," ujar Ermi dengan nada mulai sesenggukan seperti menahan tangis.

Seminggu di rumah sakit daerah Banjarmasin itu, Airra sempat terbengkalai tanpa mendapatkan tindakan medis. Sebab, ketika itu para dokter spesialis sedang libur Lebaran dan hanya ada dokter jaga serta perawat.

Setelah itu, Airra mulai menjalani pemeriksaan. Dokter spesialis di RS daerah Banjarmasin itu kemudian memberikan pilihan dua rumah sakit rujukan untuk menangani penyakit Airra, yakni RSCM dan RS Soetomo Surabaya.

"Kami sempat meminta untuk dirujuk ke rumah sakit Yogya atau Semarang, karena dekat dengan kekuarga. Tapi cuma dua pilihan dari dokter," tutur Ermi.

Pertimbangan jarak tempuh dari Yogyakarta, Ermi dan suaminya akhirnya memilih Surabaya sebagai daerah tujuan untuk merawat putri pertamanya itu.

Di Surabaya, Airra harus pulang pergi selama dua bulan untuk mengecek pelacakan serta penegakkan diagnosa penyakit.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved