Wow, Aplikasi Milik Israel Ini Diklaim Dapat Mendeteksi Pedofil dan Teroris Hanya dari Wajah

Aplikasi itu bekerja berdasarkan teori bahwa kepribadian manusia dapat diprediksi dari ukuran tengkoraknya.

Penulis: say | Editor: Muhammad Fatoni
RT
Aplikasi Faception 

TRIBUNJOGJA.COM - Aplikasi Faception yang dikembangkan Israel diklaim dapat mendeteksi pedofil dan teroris hanya dengan melihat wajahnya.

Aplikasi itu bekerja berdasarkan teori bahwa kepribadian manusia dapat diprediksi dari ukuran tengkoraknya.

Faception mulai dikembangkan pada tahun 2014 menggunakan visi komputer dan teknologi pembelajaran mesin.

Sejauh ini, telah dibangun 15 klasifikasi kepribadian yg berbeda diantaranya ekstrovert, jenius, peneliti akademis, pemain poker profesional, pemain bingo, promotor merek, pelaku kejahatan kerah putih, pedofil, serta teroris.

DNA menjadi kunci dalam penilaian wajah seseorang. Menurut CEO Shai Gilboa, kepribadian ditentukan oleh DNA dan tercermin di wajah.

"Ini semacam sinyal," kata Shai seperti dikutip dari RT, Rabu (25/5/2016).

Keselamatan publik dan keamanan dalam negeri menjadi fokus utama dari Faception. Namun, teknologi ini juga dapat digunakan untuk membantu layanan keuangan, pemasaran dan kecerdasan buatan.

Pada serangan Paris tahun lalu misalnya, Faception bekerja mendeteksi sejumlah teroris. Sembilan wajah teroris terdeteksi dengan alat ini, padahal tanpa pengetahuan sebelumnya.

Lalu pada sebuah turnamen poker, empat pemain diprediksi akan menjadi yang terbaik, dari 50 orang yang masuk ke babak final.

Akurasi Faception sekitar 80 persen. Ini berarti, satu dari lima orang kemungkinan dapat di klasifikasikan sebagai seorang pedofil atau teroris.

Praktik ini didasarkan pada teori phrenology yang berhubungan dengan pseudosains pada abad ke-19. Menurut teori ini, ciri-ciri kepribadian dapat di prediksi dari ukuran tengkorak.

Namun ini sering digunakan untuk membenarkan rasisme pada saat itu. Sejumlah ahli mempertanyakan implikasi etis dari praktik ini bila hanya berdasarkan pseudosains.

Salah satunya adalah Alexander Todorov, seorang profesor psikolgi di Princeton yang mengatakan bahwa akurasi dalam penilaian ini sangat lemah. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved