Ketika Para Profesor Menari

TIGA dari empat profesor perempuan tari Indonesia tampil pada pertunjukan The Dancing Professors

Penulis: rap | Editor: Ikrob Didik Irawan
Foto/ist: Novia Kurtikasari
Profesor perempuan tari Indonesia tampil pada pertunjukan The Dancing Professors 

TIGA dari empat profesor perempuan tari Indonesia tampil pada pertunjukan The Dancing Professors. Adalah Prof. Dr. A.M. Hermien Kusmayati, S.St., S.U. (Jogja); Prof. Dr. Sri Rochana W, S.Kar., M.Hum. (Solo); dan Prof. Dr. Endang Caturwati, S.St. M.S. (Bandung).

Dihelat oleh Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR), Sekolah Pascasarjana, UGM, The Dancing Professors yang dipertunjukan pada Sabtu, (14/5) di SMK Negeri 1 (SMKI), Kasihan, Bantul.

Sajian tari dari para profesor perempuan tari Indonesia ini digelar dalam rangka Dies Natalis 25th PSPSR.

Selain itu pertunjukan ini juga turut dipersembahkan untuk perayaan ulang tahun ke-83 pionir pendidikan tinggi seni di Indonesia, Prof. R.M. Soedarsono.

Pertunjukan diawali dengan sajian tari dengan repertoar yang berjudul “Umarmaya-Umarmadi”, oleh Dr. Kuswarsantyo dan Dr. Supadmo.

Repertoar selanjutnya adalah pertunjukan tari “Condong” oleh Dr. Ni Nyoman Sudewi. Yang menarik dari dua repertoar tersebut adalah para penari merupakan alumni dari prodi PSPSR.

Setelah dimanjakan akan visual tari yang menawan, pada pertunjukan selanjutnya, penonton dimanjakan dengan sajian musik dari PSPSR Chamber –dengan pemusik para mahasiswa dan alumni PSPSR– di bawah pimpinan, Mei Artanto.

Chamber tersebut tidak hanya memainkan lagu Barat, namun beberapa lagu etnis dan folklore Indonesia, yang dibingkai menjadi satu kesatuan layaknya sebuah kolase.

Dipertunjukan sebagai puncak acara, The Dancing Professors dibuka oleh penampilan dari dua profesor, yakni: Prof. Hermien dan Prof. Sri Rochana, dengan sebuah repertoar yang berjudul “Retna Tinandhing”.

Kendati tidak berusia muda lagi, kedua profesor masih mempertunjukan keluwesan gerak dan stamina tubuh yang tidak kalah baiknya dari para penari muda.

Pertunjukan malam itu pun semakin menawan, dengan diiringi permainan gamelan secara live, tiap gerak tari alusan dari kedua profesor yang terbiaskan cahaya nan syahdu, telah menyatu dengan musik.

Repertoar tersebut pun diakhiri dengan aksi panah dari kedua profesor, sebagai representasi akan tertujunya UGM sebagai pilihan untuk mereka menimba ilmu.

Bertolak dari repertoar “Retna Tinandhing”, kedua profesor ini tidak hanya mempertunjukan gerakan yang luwes nan estetis, namun terdapat kedewasaan gerak yang terakumulasi dari latihan dan pengalaman kepenarian yang dipunya. Dan hal tersebut tidak sembarang didapat oleh tiap penari.

Dari pertunjukan The Dancing Professors tersebut, terbetik beberapa poin penting, yakni, pertama, para Profesor masih dapat menari dengan luwes, energik, dan menawan.

Kedua, ketiga profesor tidak hanya memperlakukan tari sebagai ingatan akan gerak, namun turut menumbuhkan rasa dalam setiap gerak.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved