Ogoh-Ogoh dan Bajingan Ramaikan Kirab Mbah Bergas di Sleman
Acara ini digelar pemerintah desa setempat sebagai bagian dari tradisi tahunan turun temurun di desa itu.
Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Singgih Wahyu Nugraha
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Suasana meriah terlihat di lapangan Desa Margoangung, Kecamatan Seyegan, Jumat (20/5/2016).
Tampak dua sosok ogoh-ogoh (patung raksasa) berdiri gagah di antara kerumunan warga yang memadati lokasi tersebut.
Terlihat pula jejeran ramai para prajurit dan bregodo serta gerobak-gerobak sapi berikut para bajingan (kusir gerobak).
Mereka saling berdiri rapi dalam satu deretan panjang di tengah lapangan.
Demikianlah gambaran suasana upacara kegiatan Merti Desa Mbah Bergas di Margoagung.
Acara ini digelar pemerintah desa setempat sebagai bagian dari tradisi tahunan turun temurun di desa itu.
Mbah Bergas konon merupakan prajurit Keraton Mataram yang pernah singgah dan babat alas di wilayah Pedukuhan Ngino dan kemudian menjadi leluhur para warga.
"Petilasannya saat ini ada di sekitar Bale Ringin, Pedukuhan Ngino," jelas Kepala Desa Margoagung, Edi Yulianto di sela acara.
Kegiatan merti desa ini disebut Edi sudah turun temurun dilakukan, bahkan semenjak ia masih kecil. Merti Desa Mbah Bergas itu sendiri menurutnya digelar selepas musim panen sebagai bentuk syukur pada Tuhan sekaligus menghormati jasa leluhur.
Rangkaian acara sudah dimulai sejak sehari sebelumnya dan dimeriahkan berbagai kegiatan. Antara lain pagelaran wayang kulit dan kirab budaya sejauh dua kilometer dengan rute dari Balai Desa Margoagung hingga area Bale Ringin di Pedukuhan Ngino.
Edi mengatakan, melalui acara merti desa ini, diharapkan warga semakin menguatkan pelestarian budaya setempat sebagai pilar keistimewaan DIY. Juga, menjunjung nilai gotong royong seperti yang menjadi ajaran Mbah Bergas dan mengedepankan sikap andap asor. Kegiatan ini juga menggambarkan sikap baik yang musti dimiliki setiap warga dalam setiap tindakan.
"Ogoh-ogoh melambangkan sikap negatif namun kemudian bisa dikalahkan oleh prajurit sebagai simbol sikap positif dari rakyat kecil dengan gotong royong," tandasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ogoh-ogoh-dan-bajingan_20160520_223003.jpg)