Misteri

Candi Temuan Warga Magelang Benar-benar Angker! Ada Lima Makhluk Halus, Ini Penampakannya

Selain buto ada dua makhluk menyerupai putri cantik di bebatuan. Sedangkan makhluk lain Buto, Genderuwo dan Banaspati menempati rumpun bambu

Tayang:
Penulis: Santo Ari | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM | Sketsa Forum Supranatural
Artefak kuno di Gendungan, Kalibening, Dukun, Kabupaten Magelang, Selasa (10/5/2016) | Sketsa: Putri Kerajaan, Buto, Banaspati, Gendruwo 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Ari

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penemuan batu-batu yang diduga peninggalan situs purbakala Dusun Gendungan, Kalibening, Magelang, Jawa Tengah, meninggalkan cerita misteri.

Komunitas Angkringan Supranatural Kota Gudeg (ASKG) mencoba mengungkap misteri penemuan batu di perkebunan warga di kaki gunung Merapi sisi barat ini.

Sepuluh personel dari ASKG didamping tiga mahasiswa arkeologi UGM mencoba meneliti batu-batuan tersebut dan sisi mistis tentang makhluk apa saja yang menunggui area tersebut, Selasa (17/5/2016) malam.

Torro Pawiro, Wakil Ketua ASKG menceritakan runtutan perjalanan dan kejadian tak biasa ini.

Setelah rombongan berkoordinasi dengan Dukuh dan Lurah setempat sekitar pukul 21.00 mereka bersama melakukan observasi di beberapa lokasi titik ditemukannya batu yang menyerupai batuan candi tersebut.

Menurut dia, luas area penyebaran batu diperkirakan satu hektare memanjang ke selatan dan menyerupai taman air seperti di Taman Sari pada kerajaan Mataram Kuno sekitar abad kedelapan.

Sekitar pukul 21.30 rombongan datang di lokasi batu, hampir tidak ada penerangan dan area yang didatangipun banyak ditumbuhi pepohonan dan semak belukar.

Kerasukan

Untuk menggali informasi terkait asal muasal daerah tersebut, pihak ASKG menyiapkan anggotanya sebagai mediator.

Dua personel ASKG Agung dan Gilang tiba-tiba kerasukan disambut salah satu warga yang turut kerasukan makhluk tak kasat mata "penguasa" di sana.

Kejadian itu disaksikan langsung oleh warga setempat, dukuh dan lurah setempat.

"Namun dirasa tidak memberikan informasi, akhirnya semua mediator disadarkan," jelasnya.

Penggalian informasi dilanjutkan dengan mempersiapkan seorang warga bernama Tora untuk dijadikan mediator.

Ketegangan terjadi lantaran makhluk yang merasuki warga semakin liar sehingga penjagaan diperkuat agar mediator tidak menyakiti dirinya sendiri.

"Dari sini tergali informasi dari salah satu mahluk bahwa tempat inilah cikal bakal Kalibening. Makhluk itu juga mengatakan jika tempat itu akan dijadikan tempat wisata jangan lupa nguri-nguri kebudayaan. Menurut mahluk yang masuk ketubuh mediator bahwa batu yang dianggap candi ini dibuat abad ke-8," urainya.

Buto Macan

Anjar, koordinator acara dari ASKG mengatakan saat temannya kerasukan ia bertingkah seperti macan dengan suara yang parau dan meraung.

Anjar mengatakan bahwa yang merasuki Tora adalah sosok seperti Buto yang berbadan tinggi besar.

Dari penerawangan tim ASKG setidaknya ada lima jenis makhluk tak kasat mata yang ada di sana.

Selain buto yang menghinggapi Tora, ada pula dua makhluk menyerupai putri cantik di kawasan bebatuan. Sedangkan makhluk lain Buto, Genderuwo dan Banaspati menempati rumpun bambu di sisi Barat.

"Semua yang disampaikan mahluk seperti mereka tidak untuk di percayai sepenuhnya, diambil sisi positifnya, ditinggalkan sisi negatifnya. Kita boleh mempercayai keberadaan mereka namun kita tidak boleh meyakini ucapan mereka," ujar Anjar.


Komunitas Angkringan Supranatural Kota Gudeg (ASKG)
Sketsa penunggu temuan bebatuan yang diduga candi

Pemandian

Sementara itu Anjar membeberkan hasil observasi dari mahasiswa Arkeolog UGM yang kebetulan ikut penelusuran bersama ASKG.

Anjar mengatakan belum bisa dipastikan batu tersebut batu candi, dan tidak ditemukan semacam relief, arca atau yang menjadi salah satu syarat pembuatan candi.

Apabila dilihat dari batu-batunya bahwa kemungkinan dulunya batu ini seperti tamansari atau tempat kolam pemandian.

Sedangkan untuk memastikan usia batu tersebut harus dilakukan uji laboratorium dan memakan waktu yang cukup lama.

Sementara itu secara terpisah, Bagus dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng mengatakan pihaknya belum sudah mengetahui bahwa ada temuan batu-batuan tersebut.

Namun pihak BPCB baru merencanakan pemeriksaan Kamis (19/5/2016).

"Informasi yang diterima batu-batu itu ditemukan 10 Mei, tapi sejauh ini belum ada laporan ke kami. Baru akan kami periksa hari kamis, jadi belum ada data atau kesimpulan terkait adanya batu-batu itu," tandasnya. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved