Lipsus Krisis Bahasa Jawa di DIY

Duh, Penggunaan Bahasa dan Budaya Jawa di DIY Kian Ditinggalkan

Langkah Google tersebut seperti membelalakkan mata masyarakat Jawa yang justru terkesan mulai meninggalkan budaya Jawa

Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM | Hasan Sakri
AKSARA JAWA - Rambu nama jalan dilengkapi dengan penamaan nama aksara jawa di Kota Yogyakarta, Rabu (11/5/2016). Penggunaan aksara jawa sebagai penamaan nama jalan sebagai salah satu cara untuk melestarikan bahasa daerah. TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA  - Proyek Google dengan UGM yang melakukan digitalisasi bahasa Jawa untuk keperluan pengembangan program Google Automatic Speech Recognition (ASR) 'menampar' masyarakat Jawa khususnya Yogyakarta.

Langkah Google tersebut seperti membelalakkan mata masyarakat Jawa yang justru terkesan mulai meninggalkan budaya Jawa, khususnya bahasa dan aksara Jawa.

Melalui proyek ini, nantinya masyarakat Jawa pengguna ponsel pintar berbasis android akan dimanjakan lantaran bahasa Jawa akan dikenali di website google melalui suara atau ucapan boso Jowo.

Sementara itu dari penelusuran Tribun Jogja, rata-rata anak di Yogyakarta justru mulai tak terbiasa dengan penggunaan bahasa Jawa.

Meski lahir dan tumbuh di tanah Jawa, khususnya Yogyakarta, tak menjamin seseorang bisa berbahasa Jawa.

Shanaz Nadya Keynathaya (10) misalnya, siswi SD Negeri Triharjo Sleman ini lahir di Yogyakarta. Namun karena tidak terbiasa, gadis yang akrab disapa Shanaz mengaku tidak bisa berbahasa Jawa.

"Enggak bisa bahasa Jawa, sehari-hari juga berbahasa Indonesia sama orangtua dan teman-teman di sekolah," ungkap Shanaz.

Pengakuan senada diakui Stanislau Audens Yuvearditra (7) atau akrab disapa Yuve. Siswa SD Tarakanita Magelang ini tidak bisa berbahasa Jawa walaupun keduaorang tuanya sehari-hari menggunakan bahasa Jawa.

"Tidak bisa bahasa Jawa karena enggak biasa ngomong. Tapi kalau ada yang bicara bahasa Jawa, kadang mengerti sedikit," ujar Yuve saat ditemui di Toko Buku Gramedia, Rabu (11/5/2016).

Pelajaran sekolah

Pelajaran bahasa Jawa yang diberikan di sekolah tampaknya juga tak mampu membuat anak-anak bisa menggunakan bahasa Jawa dengan baik dan benar. Misalnya saja Annisa Rahmadika (14), siswi kelas 8 SMP N 1 Ngaglik, Sleman.

Meski mengaku lahir dan menetap di Yogya dengan kedua orangtua asli Yogya, ia akui tak lancar berbahasa Jawa.

"Kalau di sekolah pakai Bahasa Indonesia. Ada teman-teman yang bisa bahasa Jawa tapi cuma sedikit. Bicara bahasa Jawa hanya ketika pelajaran bahasa Jawa saja," terang Annisa.

Sementara itu, jika di rumah Annisa mengaku bahwa dirinya terkadang menggunakan bahasa Jawa namun masih dalam level Bahasa Jawa Ngoko.

Menurutnya, orangtua Annisa juga terkadang mengajarkannya Bahasa Jawa ketika berada di rumah. Namun, terkadang ia mengakui canggung saat harus berbahasa Jawa lantaran ada sejumlah kosakata Jawa yang tak ia pahami. (tribunjogja/ tim)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved