Lipsus Krisis Bahasa Jawa di DIY

Bahasa dan Aksara Jawa Penting untuk Jaga Keluhuran Budaya Jawa

Bahasa dan aksara Jawa bukanlah romantisme, melainkan membangun keluhuran budaya Jawa.

Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM | Hasan Sakri
AKSARA JAWA - Rambu nama jalan dilengkapi dengan penamaan nama aksara jawa di Kota Yogyakarta, Rabu (11/5/2016). Penggunaan aksara jawa sebagai penamaan nama jalan sebagai salah satu cara untuk melestarikan bahasa daerah. TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Keprihatinan terhadap menurunnya warga Yogya yang paham dan menggunakan bahasa Jawa juga diungkapkan Wakil Ketua DPRD DIY, Arif Noor Hartanto.

Arif bahkan dengan tegas mengatakan bahwa bahasa dan aksara Jawa bukanlah romantisme, melainkan membangun keluhuran budaya Jawa.

"Menuliskan istilah dalam huruf jawa, bukan berarti kita sedang beromantisme dan bernostalgia ke zaman dahulu, melainkan sedang merevitalisasi keluhuran itu untuk kehidupan masa kini dan datang," kata politikus yang akrab disapa Inung tersebut.

Arif Noor Hartanto menegaskan, pendidikan bahasa Jawa menurutnya penting di tengah modernisasi. Bahasa Jawa menurutnya memberikan penanaman nilai-nilai terhadap tata krama yang diyakini masih relevan untuk diterapkan hingga sekarang.

"Pelestarian dan internalisasi bahasa Jawa terhadap generasi penerus, merupakan upaya kita untuk terus melestarikan tata krama, sopan santun, hormat kepada yang lebih tua, serta menjaga harmonisasi," jelas Inung, Rabu (11/5/2016).

Sementara itu, imbuhnya, huruf Jawa menjadi satu bagian yang tak terpisahkan dalam pelestarian bahasa Jawa. Namun politisi PAN tersebut mengimbau, jangan sampai pengajaran tentang huruf Jawa justru melenceng dari maksud dan tujuan awal untuk menanamkan nilai positif.

"Misalkan nulis Hanacara tidak rapi, nanti nilainya jelek. Padahal valuenya sudah dipahamai siswa. Penanaman ini yang perlu hati-hati," tandasnya.

Sementara Wakil Ketua Komisi D, Atmaji, yang mengampu bidang pendidikan dan kebudayaan mengatakan, Yogya merupakan kota pendidikan yang juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah kerajaan.

"Di sana itu ada tulisan Hanacaraka. Kalau sekarang anak-anak Yogya sudah tidak bisa membaca huruf itu, ada kesalahan yang harus kita evaluasi bersama agar bisa kita betulkan," terangnya.

Mungkin, lanjutnya, generasi muda tidak bisa membaca huruf itu karena gurunya tidak bisa membaca juga, sehingga mereka mengajarkan bahasa Jawa tanpa pernah mengajarkan menulis dan membaca.

"Memprihatinkan. Saat SD dulu, saya belajar membaca dan menulis, hingga sekarang saya masih bisa membaca dan menulis huruf Jawa. Tapi kenapa sekarang begini, ini jelas menjadi keprihatinan bersama," tegasnya.

Melihat permasalahan tersebut, ia mengatakan bahwa selanjutnya akan menyampaikan beberapa rekomendasi kepada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY, terkait pendidikan bahasa Jawa.

"Akan kita sampaikan, agar ke depan tidak ada lagi anak muda di Yogya yang tidak mengerti bahkan tidak bisa membaca huruf Jawa. Kita akan bicara secara makro, mungkin tentang kurikulumnya, mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA," tutupnya. (tribunjogja/ tim)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved