Anda Mungkin Tak Percaya, Lukisan Wajah Kang Emil Ini Terbuat dari Kulit Batang Pisang
Untuk melukis wajah Emil di papan kayu ukuran 55 x 45 sentimeter, tak kurang dari seember kelekes dan sebungkus lem kayu yang ia habiskan.
TRIBUNJOGJA.COM - Kelekes atau kulit batang pisang yang sudah mengering sering dianggap sampah. Tapi, di tangan Saripudin (24), kelekes berubah menjadi beragam karya seni.
Dari bahan kelekes ini pula lukisan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, ia buat.
Perlu dua hari bagi Saripudin menyelesaikan lukisan wajah Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil.
Untuk melukis wajah Emil di papan kayu ukuran 55 x 45 sentimeter, tak kurang dari seember kelekes dan sebungkus lem kayu yang ia habiskan.
Saat melihat hasilnya, sulit dipercaya bahwa itu kelekes.
Buruh tani asal Kampung Bunikasih, RT 02/08, Desa Bunisari, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, ini mengaku bukan tanpa alasan ia memilih Emil sebagai objek lukisannya.
"Saya kagum sama Kang Emil, sama kata-katanya yang bijaksana di media sosial. Karenanya saya melukis beliau," ujarnya kepada Tribun di kediamannya di Warungkondang, Kamis (12/5).
Emil, ujarnya, bukan tokoh pertama yang ia lukis menggunakan kelekes. "Saya juga melukis presiden pertama RI, Soekarno; presiden kedua RI, Soeharto; Pak Irvan (Irvan Rivano Muchtar, Bupati Cianjur terpilih), dan Pak Herman (Herman Suherman, wakil Irvan)," ujarnya.
Tapi, selain wajah tokoh-tokoh penting, Saripudin mengaku kerap juga melukis kaligrafi, pemandangan alam, dan aneka satwa. "Penari Bali juga termasuk objek yang pernah saya lukis," ujarnya.
Saripudin mengatakan, bukan hal yang mudah melukis dengan menggunakan kelekes sebagai bahan baku. Mula-mula, bagian dalam kelekes dipisahkan dari bagian luarnya.
Bagian yang berwarna krem itulah yang akan menjadi warna dasar lukisan. Bagian tersebut kemudian ditempel pada papan tipis yang sudah dilapisi lem.
Setelah kelekes merekat kuat pada papan, Saripudin pun mulai membuat sketsa dengan pensil.
"Nanti disesuaikan, mana warna-warna alami yang baik untuk bagian-bagian sketsa itu. Ada warna cokelat gelap, cokelat terang, krem, bahkan hitam," ujar bungsu dari empat bersaudara itu.
Kelekes yang dipotong menggunakan gunting atau pisau cutter kemudian ditempel satu per satu pada papan mengikuti sketsa. Setiap bagian ditempel dengan hati-hati.
"Tapi yang paling sulit adalah membuat detail bagian tertentu seperti bulu mata atau rambut," ujarnya.
Tak jarang, kata Saripudin, potongan kelekes yang akan ditempel malah terus menempel di ujung pisau.
"Saya pernah melukis harimau. Detail-detail bulu harus berulang-ulang dibongkar pasang agar hasilnya sempurna. Perlu kesabaran," katanya.
Tapi, kesabaran tidak hanya saat proses melukis berlangsung. Pencarian bahan utama, kalekes, juga kerap tak berlangsung mudah. Untuk menemukan warna-warna terbaik kelekes, tak jarang Saripudin harus menempuh perjalanan jauh, berjalan kaki dari kebun pisang yang satu ke kebun pisang lainnya.
"Saya tak mau mewarnai kelekes yang saya pakai untuk melukis dengan gincu atau pewarna lainnya. Alhamdulillah, selama ini warna-warna kelekes untuk lukisan saya asli," ujarnya.
Autodidak
Saripudin mengatakan, ide membuat lukisan dari kulit batang pisang kering ini muncul setelah melihat banyak karya seni serupa saat jalan-jalan di Sukabumi. Ia juga mengaku melihat banyak lukisan dari kelekes ini melalui internet.
Dari melihat, ujarnya, kemudian mencontoh. "Pernah saya mau belajar melukis ke seseorang, tetapi orang tersebut tidak mau membagi ilmunya. Akhirnya saya autodidak saja," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/lukisan_dhgdf_20160513_112430.jpg)