Tak Ada yang Tahu Jika Gunung Sourabaya Meletus, Kecuali Satelit NASA Ini

NASA menambahkan, bahwa Gunung Sourabaya ini erupsi terakhir pada tahun 1956 silam.

Editor: Mona Kriesdinar
Earth Observatory NASA
Gunung Sourabaya yang berada di Pulau Bristol meletus pada 1 Mei 2016 kemarin. Kejadian ini berhasil diabadikan oleh satelit NASA 

TRIBUNJOGJA.COM - Gunung Sourabaya, ya memang mirip dengan nama kota di Indonesia. Tapi gunung aktif bertipe stratovolcano ini berada di sebuah pulau terpencil yang berada di Selatan Samudera Atlantik.

Tepatnya berada di Pulai Bristol, dalam rangkaian kepulauan South Sandwich Island. Kepulauan ini berada sekitar 2,776 kilometer tenggara Buenos Aires, Argentina.

Untuk pertama kalinya sejak 60 tahun, Gunung Sourabaya meletus dahsyat. Tak ada seorang pun yang tahu, lantaran pulau ini memang tak berpenghuni. Tapi tak demikian halnya dengan satelit NASA yang berhasil mengabadikan momen menakjubkan ketika erupsi itu berlangsung.

Gunung setinggi 1100 meter ini, melontarkan material vulkanik ke udara, menembus lapisan salju yang menutupi bagian puncaknya.


Gunung Sourabaya meletus pada 1 Mei 2016 kemarin. Gambar ini berhasil diabadikan oleh satelit NASA Landsat 8 (Earth Observatory NASA)

Satelit Landsat 8, setidaknya berhasil memotret dua kali gambar selama erupsi berlangsung. Kedua gambar kemudian dikombinasikan dengan menggunakan gelombang pendek infra merah untuk menciptakan struktur obyek yang sebenarnya dan mendeteksi perbedaan temperatur obyek.

Tiap gambar ini, berhasil menunjukan bagian-bagian terpanas gunung api yang ditunjukan dengan warna merah menyala , dan orange. Menurut NASA, ini mengindikasikan bahwa itu merupakan bagian dari lava.

Warna putih, merupakan gambar kepulan asap vulkanik semantara warna biru menyala dan warna hijau merupakan lapisan es dan salju yang menutupi bagian puncak gunung.


Gunung Sourabaya meletus pada 1 Mei 2016 kemarin. Gambar ini berhasil diabadikan oleh satelit NASA Landsat 8 (Earth Observatory NASA)

Adapun sebagaimana dilansir Earth Observatory NASA, erupsi terjadi pada 24 April hingga 1 Mei 2016 kemarin.

Pemantauan seismik dan satelit memungkinkan mereka untuk mencatat berbagai kejadian yang tak biasa. Meskipun peristiwa itu terjadi di daerah terpencil yang tak diketahui siapapun.

"Kini, para ilmuwan dapat mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia yang lokasinya sangat jauh dari para peneliti," jelas NASA dalam sebuah paparannya.

NASA menambahkan, bahwa Gunung Sourabaya ini erupsi terakhir pada tahun 1956 silam. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved