Inseminasi Buatan Punya Dampak Negatif Pada Sapi
Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik menjadi solusi untuk memperoleh daging sapi secara cepat karena dapat meningkatkan reproduksinya.
Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik menjadi solusi untuk memperoleh daging sapi secara cepat karena dapat meningkatkan reproduksinya.
Namun ternyata, belum banyak yang mengetahui tentang dampak negatif IB pada sapi yang justru bisa menyebabkan munculnya kasus anestrus (tidak birahi), repeat breading (kawin berulang), dan nimfomania (birahi terus menerus) pada sapi di kemudian hari.
Munculnya masalah reproduksi pada sapi tersebut, menurut Dosen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Drh Prabowo Purwono MPhil, ditentukan oleh faktor akseptornya.
Masalah kekurang suburan sapi diketahui muncul setelah adanya perlakuan IB.
"Kesalahan akseptor IB di lapangan, dikarenakan pelaksana IB umumnya bukan dari kalangan praktisi dokter hewan. Sebenarnya gangguan reproduksi tersebut ada di ranah dokter hewan, namun kita tahu jumlah dokter hewan di Indonesia tidak banyak, sehingga IB dilakukan oleh para tenaga teknis pembantu,” ungkapnya, dalam workshop Gangguan Reproduksi dan Pelatihan USG pada Sapi di kampus FKH UGM, Rabu (27/4/2016).
Pelaksanaan IB dilapangan, lanjutnya, juga tidak didukung dengan prasarana yang menunjang. Selain itu, kondisi sanitasi yang kurang baik, menyebakan pelaksanaan IB menjadi media masuknya infeksi bakteri dan jamur pada organ reproduksi sapi.
“Pada saat IB, tidak hanya semen yang didepositkan ke dalam korpus uteri namun kemungkinan adanya masuknya bakteri dan jamur,” ujarnya.
Dia menyebutkan kegagalan reproduksi sapi di Indonesia umumnya bersifat subklinis akibat infeksi bakteri dan jamur pada organ reproduksi sapi betina.
Beberapa jenis bakteri dan jamur yang paling sering ditemukan diantaranya E.coli, Cornyebacterium pyogenes, Streptococus sp, staphylococcus sp dan Aspergillus fumigator dan Candida Albicans.
Upaya pencegahan infeksi dan kontaminasi bakteri dan jamur ke dalam lumen uterus dapat dilakukan dengan pelaksanaan sanitasi yang ketat saat pelaksanan IB.
“Pekerjaan IB bukan pekerjaan main-main, membantu dokter hewan dalam program inseminasi buatan,” katanya. (tribunjogja.com)