Bambu Asal Sleman Kurang Diminati Perajin Cebongan
Komoditas bambu asal Sleman kurang ternyata kurang diminati oleh perajin bambu di Cebongan, Mlati
Penulis: ang | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan reporter Tribun Jogja, Angga Purnama
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Komoditas bambu asal Sleman kurang ternyata kurang diminati oleh perajin bambu di Cebongan, Mlati. Sebagian besar perajin lebih memilih menggunakan komoditas bambu dari daerah lain.
Salah satu perajin bambu, Triyanto mengatakan bambu asal Sleman cenderung kurang awet untuk dijadikan kerajinan, khususnya mebel. Pasalnya bambu Sleman memiliki kadar air yang tinggi lantaran ditanam di lereng Gunung Merapi.
“Memang bambunya subur dan besar batangnya. Tapi karena tumbuh di lereng gunung, kadar airnya tinggi, sehingga sulit dikeringkan,” ungkapnya saat di temui di showroom Pasar Bambu Cebongan, Senin (25/4/2016).
Menurutnya bambu asal Sleman memang beragam, dan hampir semua komoditas bambu yang dibutuhkan perajin ada. Namun lantaran tumbuh subur dan cepat besar batangnya, bambu cenderung dipanen sebelum saatnya.
“Jika sudah begitu, biasanya batang bambu tidak terlalu kuat bahkan bisa kempes. Tidak cocok dijadikan mebel tapi lebih cocok dijadikan anyaman karena batangnya tebal,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, sebagian besar pengrajin lebih memilih membeli bahan baku dari luar Sleman, seperti Kulonprogo dan Purworejo. Selain karena kualitas, jumlah pasokan dari daerah tersebut lebih stabil.
“Kalau di Sleman kan masih dalam pengembangan, belum bisa menjadi patokan dan memenuhi kebutuhan pengrajin,” ujarnya.
Hal yang sama juga dikatakan pengrajin lainnya, Hariyadi. Bambu dari Purworejo lebih mudah diaplikasikan sebagai kerajinan dibandingkan bambu yang ditanam di Sleman.
“Usia batang bambu yang didatangkan dari luar Sleman lebih pas untuk dijadikan mebel. Karena untuk membuat mebel bahan bakunya harus berkualitas,” kata dia.
Di sisi lain, harga bambu di Sleman cenderung lebih mahal lantaran dimainkan oleh tengkulak. Tidak hanya itu, komoditas bambu asal Sleman juga tidak mudah dicari.
“Lebih banyak dijual keluar, kalau mengandalkan bambu Sleman tidak cukup untuk bahan baku,” ujarnya. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/perajin-bambu_2508_20150825_172141.jpg)