Mahasiswa Belanda Belajar Kebudayaan Melalui Sister School di SMAN 9 Yogya
Masih banyak orang asing yang belum mengetahui Yogyakarta.
Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sejumlah 30 siswa asing beserta 2 guru pendamping yang berasal dari Amsterdam, Belanda belajar kebudayaan di SMAN 9 Yogyakarta, Kamis (21/4/2016).
Mereka merupakan siswa program Sister School yang belajar membatik, bermain gamelan, serta pada Selasa (26/4/2016) mendatang dijadwalkan untuk belajar tari tradisional.
Kepala SMAN 9 Yogyakarta, Drs H Maman Surakhman MPdI menjelaskan bahwa Sister School tersebut bertujuan untuk memberikan kesempatan pertukaran dua budaya, bukan hanya antar-sekolah, namun juga kaitannya antar-negara.
"Sebagai tuan rumah, kami memiliki peran untuk meyakinkan mereka bahwa Yogya ini kota budaya dan kota yang aman, sehingga layak menjadi destinasi wisata mereka," terang Maman ketika ditemui di ruang kerjanya.
Alumni IKIP Yogyakarta (sekarang UNY) tersebut mengatakan, bahwa masih banyak orang asing yang belum mengetahui Yogyakarta.
"Di sini kami mencoba mengenalkan Yogyakarta. Mulai dari pembelajaran di kelas, ada tour ke beberapa wisata budaya, membatik, bermain gamelan, menari, dan sebagainya," ungkapnya.
Sementara itu, Penggagas Sister School di SMAN 9 Yogyakarta, Lucia Wirastuti Kindarsih MAcc menceritakan bahwa awalnya mereka belum bisa percaya sepenuhnya dengan masyarakat di sini.
Adanya program Sister School tersebut, jelas wanita yang akrab disapa Tuti, mampu menumbuhkan toleransi antar negara yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda.
"Mereka datang ke sini, delegasi siswa kami pun nanti ada yang ke sana. Saat kami ada di sana nanti, kami akan lebih banyak mengenal budaya mereka. Tak hanya itu, kami juga membawa misi kebudayaan untuk mengenalkan Yogya saat ada di sana," ungkapnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/sister-school_2104_20160421_203555.jpg)