Siswa Berkebutuhan Khusus Ngambek Bila Pengawas UN dari Luar Sekolah

Kalau (pengawas) dari luar, anak-anak biasanya ngambek, karena tidak kenal dengan guru atau pengawsannya

Penulis: Santo Ari | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Rona Rizkhy
Siswa inklusi ikuti ujian Nasional Berbasis komputer di SMA Budaya Wacana. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Ari

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Ujian Nasional (UN) tingkat SMA sederajat yang dimulai sejak Senin (4/4/2016) juga dijalani para siswa berkebutuhan khusus.

Seperti halnya Sekolah Luar Biasa (SLB) Wiyata Dharma Sleman, ada dua siswanya yang menderita tunarungu juga turut menjalani ujian.

Namun selama proses ujian para siswa menolak adanya pengawas dari luar sekolah.

Kepala Sekolah SLB Wiyata Dharma, Bambang Sumantri menjelaskan dua siswanya yakni Siti Khoiriyah dan Rudi Wahudin tak mengalami kesulitan dan serius dalam mengerjakan soal-soal meski mengalami keterbatasan pendengaran.

Kedua siswa tersebut menjalani ujian berbasis tulis dan tidak menggunakan komputer sehingga tidak ada soal listening untuk pelajaran Bahasa Inggris.

Namun dengan alasan agar siswa dapat mengerjakan secara maksimal dan nyaman, pihak sekolah menerapkan sistem pengawas silang.

"Kalau (pengawas) dari luar, anak-anak biasanya ngambek, karena tidak kenal dengan guru atau pengawsannya. Mungkin mereka kurang pede dan kalau seperti itu dalam mengerjakan soal bisa tidak maksimal,"jelas Bambang.

Sistem pengawasan silang ini yakni menerapkan satu pengawas dari sekolah dan satu dari luar sekolah. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved