Buku 'Gunung Versus Pesisir' Ungkap Diskriminasi yang Terjadi di Tanah Papua
Masyarakat pegunungan mendapat label negatif dan pesisir mendapat label positif.
Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Wempi Wetipo SH MH, membeberkan tentang permasalahan besar yang terjadi di Papua, yakni diskriminasi atas stereotip yang dibangun secara perlahan melalui bukunya yang berjudul Gunung Versus Pesisir.
"Penduduk asli Papua dapat digolongkan menjadi dua. Kelompok pertama adalah penduduk yang menyatakan dirinya 'modern' dan bisa berinteraksi dengan dunia 'luar', sementara kelompok kedua adalah penduduk yang masih hidup 'klasik' mempertahankan kebudayaan aslinya," jelas Wempi, di University Club (UC), Kamis (31/3/2016).
Kelompok pertama, lanjutnya, adalah masyarakat yang hidup di wilayah pesisir atau pantai. Akses transportasi yang mudah menjadikan interaksi dengan dunia luar lebih mudah.
Sementara kelompok kedua adalah mereka yang hidup di pegunungan, yang untuk mencapai ke sana cukup sulit.
Menurut pria yang masih menjabat sebagai Bupati Jayawijaya tersebut, dulu keadaan di sana baik-baik saja.
Bahkan saat itu keadaan di Papua relatif 'steril' dari kepentingan luar, baik asing maupun dari kepentingan suku lain yang ada di Indonesia.
"Namun seiring berjalannya waktu, terjadi lalu lintas manusia, budaya, politik ke Papua, membawa perubahan yang signifikan, khususnya pada orde baru. Masyarakat pegunungan termarjinalkan. Tak heran bila mayoritas gerakan pemberontakan untuk 'merdeka' lebih banyak disuarakan dari pegunungan," terang putra asli Papua tersebut.
Akibatnya, secara perlahan stereotip pun terbangun. Masyarakat pegunungan mendapat label negatif dan pesisir mendapat label positif.
Diskriminasi tersebut dialami banyak pihak, tak terkecuali dengan kedua penulis buku yang notabene merupakan orang gunung. Wempi mengaku merasakan hal tersebut ketika mengenyam pendidikan dari tingkat dasar hingga SMA di wilayah pesisir.
Sementara itu, dalam bedah buku yang juga menghadirkan tim pembahas. Satu dari tim pembahas, yakni Prof Dr Purwo Santoso MA PhD mengungkapkan pembilahan Papua gunung dan pesisir terjadi karena mobilisasi sentimen yang dilakukan para elit politik.
"Arti penting dari buku ini adalah meretas upaya penanganan masalah tanpa harus marah-marah. Ada serentetan himbauan yang diungkap secara tulus karena mendalamnya pemahaman dan kecinyaan pada Papua," ucap Purwo. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/wempi_20160331_201304.jpg)