Penerjun JAS Jatuh ke Laut

Keluarga Iklaskan Kepergian Wika

Hujan air mata pun tidak dapat terbendung dari keluarga dan pelayat yang hadir saat jenazah Wika memasuki liang lahat.

Penulis: ang | Editor: oda
tribunjogja/anggapurnama
Keluarga menaburkan bunga di pusara Wika di kompleks pemakaman keluarga besar TNI AU Siddha Muktya Laya Dusun Kradenan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Minggu (27/3/2016). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Angga Purnama

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Suasana kesedihan menyelimuti kompleks pemakaman keluarga besar TNI AU Siddha Muktya Laya Dusun Kradenan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Minggu (27/3/2016).

Lokasi inilah yang menjadi peristirahatan terakhir Wika Milati Mulaningtyas, atlet terjun payung yang mengalami kecelakaan di Pantai Depok.

Hujan air mata pun tidak dapat terbendung dari keluarga dan pelayat yang hadir saat jenazah Wika memasuki liang lahat. Ibunda Wika, Untari beberapa kali terlihat lemas tak kuasa menahan kesedihan atas kepergian putrinya.

Ia pun terpaksa dipapah oleh beberapa sanak saudara agar tak jatuh pingsan.

Sementara Serka Sudaryono, sang ayah, terlihat lebih tegar saat berada di depan pusara anak sulungnya itu. Selain orangtua, kepergian gadis 24 tahun itu meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi kedua adiknya.

Bunga pun bertabur setelah jasad Wika bersemayam di bumi. Bibir-bibir pelayat pun tak hentinya memanjatkan doa agar Wika tenang di sisi Tuhan. Tampak beberapa rekan Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Daerah Yogyakarta, termasuk rekan penerjun satu tim dalam Jogja Air Show (JAS) 2016.

Rekan satu tim Wika, Ibnu Adi mengatakan almarhumah Wika dikenal sebagai pribadi yang supel dan periang. Dalam bergaul, ia merupakan seseorang yang mudah akrab dengan teman baru.

"Wika merupakan teman seperjuangan sejak 2006. Bersama-sama mengikuti pelatihan terjun payung. Bagi kami, Wika tidak hanya rekan namun juga keluarga dan adik," paparnya.

Sebagai atlet, Wika memiliki pengalaman terjun sebanyak 125 kali sebelum ajal merenggutnya di pantai selatan Jawa. Pengalaman yang cukup itu juga membuat rekan-rekannya tak percaya akan kepergian Wika.

"Dia sudah digolongkan sebagai atlet, bukan lagi seorang yang amatir. Saya tidak percaya Wika mengalami insiden saat melakukan terjun payung," ungkapnya.

Kesedihan mendalam juga dirasakan oleh Anjar Odi Herlambang sang adik. Baginya seolah kenangan bersama kakaknya itu masih terngiang dalam benaknya. Termasuk janji Wika untuk mengajaknya terjun tendem.

"Dia mau mengajari saya terjun payung. Tapi niat itu terhenti," kata Anjar.

Minat Wika terhadap olahraga ekstrim ini muncul sejak 2006 silam ketika ia melihat atraksi terjun payung.

Ketertarikan tersebut disampaikan kepada sang ayah yang kemudian mengenalkan Wika kepada beberapa rekannya yang aktif dalam olahraga terjun payung.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved