Distilasi Alkena, Perayaan Patah Hati Wira Nagara
Distilasi artinya pemisahan dan Alkena adalah zat yang memiliki ikatan sangat kuat sehingga tak mungkin dipisahkan.
Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: oda
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Hidup menahun dengan hati yang patah, tak lantas membuat Wira Nagara (23) sekarat.
Ia justru memilih untuk memelihara rasa itu dan mengajak khalayak ramai untuk menertawakan patah hati bersama-sama, melalui buku pertamanya yang berjudul Distilasi Alkena.
Kedua kata tersebut berasal dari istilah kimia. Distilasi artinya pemisahan dan Alkena adalah zat yang memiliki ikatan sangat kuat sehingga tak mungkin dipisahkan.
Wira memilih judul tersebut bukan karena ia gemar dan pandai dalam pelajaran kimia. Sebaliknya, Wira yang beribukan seorang guru kimia, justru mendapatkan nilai yang mengenaskan dalam mata pelajaran tersebut.
"Aku ini bodoh di pelajaran Kimia SMA. Namun yang namanya kimia sangat lekat dengan cinta karena cinta itu berkaitan dengan chemistry. Semua perasaan bisa dianalogikan ke kimiawi, itulah yang melatarbelakangi pemilihan judul Distilasi Alkena," jelasnya saat launching buku Distilasi Alkena, di Toko Buku Gramedia Jalan Jend Sudirman, Sabtu (26/3/2016).
Pria yang namanya melambung setelah menjadi satu di antara kontestan Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) 5 tersebut, juga mengimbuhkan istilah lain dalam bukunya. Mulai dari Biologi, Fisika, Pertanian, Kedokteran, dan sebagainya.
"Ada istilah koefisien etiolasi. Etiolasi adalah pertunbuhan tanaman yang cepat di tempat gelap, sementaa koefisien mengarah ke konstan," terangnya dengan bahasa yang kocak di hadapan puluhan pengunjung di sana.
"Jadi ada rasa sakit yang tumbuh dalam kegelapan. Seseorang yang suka pergi ke tempat sepi, menyendiri, nggak mau curhat, dan nggak mau percaya dengan orang lain," tambahnya.
Tak berbeda dari citranya sebagai komik, sebutan untuk pelaku Stand Up Comedy, selalu menceritakan kisah cintanya yang tak berujung manis, buku perdananya tersebut juga berisi tentang curahan rasa sakit dan patah hati seorang Wira Nagara, terhadap pujaan hati yang dicintai selama bertahun-tahun, namun tak pernah dimiliki sedetikpun.
Menurut pemilik nama lengkap Wira Setianagara tersebut, buku tersebut dibuat bukan untuk menciptakan kesedihan massal, namun untuk merayakan dan menertawakan bersama-sama patah hati yang ia rasakan.
Seorang pria alay yang memilih untuk menuliskan seluruh perasaannya.
"Banyak orang yang lebih sakit dari aku. Tapi mereka memilih diam. Ini sakig akunya yang alay, jadi semua semua ditulis sampai jadi buku," ucapnya disusul riuh tawa pengunjung.
Pria kelahiran Batang, Jawa Tengah, 21 November 1992 tersebut mulai mengetik sejak Juli 2015. Namun beberapa tulisan di buku tersebut juga diambil dari blognya di www.wiranagara.id, yang garis besarnya juga sama, romansa kesakitan ditinggal pujaan hati menikah dengan pria lain.
"Saat membaca buku ini, rasanya pingin mati aja di edisi awal. Lalu dipertengahan kita diajak mikir kenapa nggak diketawain aja. Kemudian endingnya tentang bahagia. Walaupun kita nggak tahu kebahagiaan yang hakiki itu seperti apa," tandas mahasiswa Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto tersebut.
Selain untaian kata yang puitis untuk mengungkapkan pengalaman tersebut, buku Distilasi Alkena juga dilengkapi dengan gambar ilustrasi karya tangan Wira sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/luncurkan-buku_20160327_180241.jpg)