Hobi Olahraga Dirgantara di DIY
Pehobi Olahraga Dirgantara Tak Harus Beli Pesawat Baru
Harga pesawat kadang tidak melulu harus mahal dan menguras kantong.
Penulis: dnh | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menggeluti hobi dirgantara, termasuk pesawat microligt atau ultralight tidak melulu harus dengan menggunakan pesawat baru yang mahal.
Tetapi juga bisa memanfaatkan pesawat bekas atau second yang harganya jauh lebih murah dari pada pesawat baru.
Anggota Jogja Flying Club, Faslan Hafizha mengatakan bahwa apa yang menjadi perbincangan masyarakat tentang mahalnya olahraga dirgantara tidak seluruhnya benar.
Karena harga pesawat kadang tidak melulu harus mahal dan menguras kantong.
Pria yang akrab disapa Alan ini mengatakan tidak harus membeli pesawat harus baru, namun juga bisa membeli pesawat second dan harganya sering diluar perkiraan.
Seperti pesawat milik keluarganya yang ada beberapa yang dibeli dalam kondisi bekas.
Ada tiga pesawat yang dimiliki, yakni dua pesawat fix wing dan satu trike atau fleksibel wing, jika ditotal harganya mencapai kurang lebih Rp 2 miliar.
Dua dari tiga pesawat tersebut dibeli dalam kondisi bekas dan harganya berkisan ratusan juta rupiah dan tidak sampai miliaran rupiah, seperti pesawat fix wing CT2K yang dibeli oleh ayahnya seharga 250 juta.
“Orang banyak yang tidak percaya, kalau harga pabriknya 1,5 M, baru. Tetapi saya, bapak saya beli kondisi delapan tahun nangkring, dan mesin baru lima jam (terbang). Kena 250 juta. Untuk trike yang kita pakai beli second, 350 juta, kalau keluaran pabrik 600 juta. Mbangane beli fortuner, beli pesawat gak kena lampu merah,” ujarnya sembari berseloroh.
Sementara satu pesawat dibeli baru dari Amerika namun dirakit di Indonesia.
“Mahalnya itu mahal toleran, sesuai dengan apa yang diberikan itu cucuk,” katanya.
Terkait dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk perawatan, hampir sama seperti yang diutarakan oleh Tjandra Agus.
Faslan Hafizha mengatakan tidaklah mahal untuk perawatan, terlebih perawatan juga dilakukan sendiri bukan pihak luar.
Ayahnya adalah seorang mekanik pesawat, meski latar belakang pekerjaannya adalah wiraswasta. Sementara dalam satu keluarga hampir semua memiliki hobi yang sama meski tidak ada anggota keluarganya yang dari penerbang.
“Saya kenal dari paralayang, kakak saya terbang, bapak saya lebih ke mekanik, dia suka otak atik. yang nerbangin kakak saya, saya sekolah penerbangan, adik saya tiga hobi semua,” ujarnya.
Sementara itu saat ini Jogja Flying Club memiliki anggota hampir 30 anggota dari berbagai kalangan, mulai dari pengusaha hingga akademisi.
Untuk pesawat, ada 17 pesawat yang diparkirkan di hanggar FASI Lanud Adisutjipto. Setiap anggota tidak wajib untuk memiliki pesawat sendiri.(*)