Ratusan Website Pemerintah Desa di Gunungkidul Terbengkalai

Sejak dilaunching pada 2011 lalu, dari 114 desa yang ada hanya ada sekitar 36 desa yang sudah aktif diupdate.

Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Muhammad Fatoni

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Kesadaran pemerintah desa untuk mengupdate data dan informasi ke dalam website desa di kabupaten Gunungkidul masih sangat rendah.

Sejak dilaunching pada 2011 lalu, dari 114 desa yang ada hanya ada sekitar 36 desa yang sudah aktif diupdate.

Hal tersebut dipengaruhi oleh minimnya sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki oleh pemerintah desa.

Tidak semua perangkat desa mampu untuk mengoperasionalkan perangkat komputer dan menguasai teknologi informasi sehingga mereka kesulitan untuk mengupdate website desa masing-masing.

Selain itu juga dipengaruhi kemampuan perangkat desa untuk mengolah informasi menjadi sebuah berita yang layak untuk ditampilkan di website resmi pemerintah masing-masing desa.

Kepala Bidang Statistik dan Perencanaan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah ( Bappeda) Gunungkidul, Saptoyo mengatakan pemerintah daerah sudah memfasilitasi seluruh desa dengan membuatkan website resmi.

Tujuannya, keberadan website tersebut bisa dimanfaatkan sebagai sarana promosi potensi desa, sumber data serta informasi tentang desa.

Hanya saja, sejak dilaunching, dari total 144 desa, baru sekitar 25 persen yang mulai rutin mengupdate data dan informasi dalam website.

“Konsepnya pemanfaatan IT bisa berjalan dengan baik. Namun hingga sekarang yang baru aktif baru sekitar 25 persen,” katanya usai mengikuti kegiatan Forum E-Goverment Desa se-Kabupaten Gunungkidul di Kantor Pemkab, Kamis (17/3/2016).

Sapto menjelaskan, dengan rendahnya kesadaran pemerintah desa tersebut, ke depan pihaknya akan berupaya semaksimal mungkin mendorong supaya keberadaan website tersebut benar-benar dimanfaatkan.

Di antaranya dengan menunjuk 18 relawan forum pengembang Sistem Informasi Desa (SID) dan melakukan pelatihan kepada perangkat desa.

Nantinya, di setiap kecamatan akan ditujuk satu desa sebagai pilot project. Harapannya, desa-desa lain yang selama ini belum aktif bisa tertarik untuk turut serta mengupdate website yang sudah dimiliki.

“Kita akan evaluasi desa mana saja yang sudha aktif dan yang belum. Nanti kita juga akan beri pelatihan lagi kepada perangkat desa dan pendampingan supaya bisa mengupdate website yang dimilikinya,” jelasnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved