Sastra

Sesudah Melihat Gerhana Lalu Apa?

Menyiapkan kaca mata hitam legam, sejenak alpa dengan kantuk menggelayuti mata.

Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: Muhammad Fatoni
tribunjogja/hamimthohari
Suasana menjelang gerhana di Tugu Pal Putih Yogyakarta 

TRIBUNJOGJA.COM - BASKARA masih malu-malu menampakkan diri di timur cakrawala, tapi sejumlah orang sudah sibuk dengan sandangan sekadarnya, ada pula yang bersolek rupa. Menyiapkan kaca mata hitam legam, sejenak alpa dengan kantuk menggelayuti mata.

Rabu, 9 Maret 2016 dini adalah sangkala bagi ribuan orang untuk menjadi saksi keagungan Illahi. Ada peristiwa gerhana matahari total puluhan tahun sekali melintasi tanah ini. Tapi apa benar semua hendak menjadi saksi mensyukuri? Belum tentu. Ada yang melakukannya untuk eksistensi diri.

Melewatkan momentum yang jarang terjadi adalah kerugian mendalam. Banyak yang bisa diambil dari gerhana matahari. Bagi sebagian orang, ini adalah cara istimewa menyibak rahasia alam. Sekelumit manusia lainnya hendak merasakan kecilnya diri yang selama ini menopangkan kaki di bawah galaksi.

Tak berhenti di sini. Gerhana matahari pun menjadi ajang yang kepalang sayang dihindarkan untuk berduyun membuktikan keberadaan di lingkup kiri-kanan pertemanan.

Berswafoto, entah itu sendiri atau beramai lalu mengunggah di sosial media adalah muara sederhananya. Kalau sudah begini, kita mafhum mengapa titik-titik pemantauan gerhana kemarin dijejali ratusan bahkan ribuan orang.

Sampai akhirnya hingar-bingar itu lenyap ditelan senyap, kemudian semua seakan bersepakat untuk berkurangingat.

Padahal di penjuru lain yang tak tersentuh, ada yang berbahagia dengan berenteng kepeng tergenggam. Ini semua hasil dari gempita matahari sirna beberapa menit saja. Sebagian dari isi dompet kalian cukup berkontribusi bagi mereka.

Bukankah terkadang manusia rela menghabiskan uang hasil kerja keras berbulan-bulan lamanya untuk kesenangan semenjana? Ah bahagianya hati tak terperi..

***

Rabu pagi yang mendadak riuh itu, Hardjodimulyo duduk sendiri di sebuah pos ronda satu dusun di utara Jogja. Ditemani tongkat kayu melengkung, pria 98 tahun ini bersenandung. Entah langgam apa yang keluar dari mulutnya, yang pasti dia cukup bahagia di usia senja.

"Mbah wangsul mawon, niki enten gerhana lho. (Mbah pulang aja, ini ada gerhana lho)," ujar seorang ibu muda yang ternyata sang cucu setengah bercanda.

"Nek ming gerhana ki ora popo. Ket mbiyen lakyo ono gerhana to, mbok ben. (Kalau cuma gerhana ya tidak apa-apa. Dari dulu memang ada gerhana kan, biarkan saja)," sahutnya lalu terkekeh.

Mbah Bantu, sapaan akrabnya, adalah satu di antara beberapa orang yang tak terseret labirin gegar gagap manusia kebanyakan menyambut sang gerhana. Mungkin dia sudah dua, tiga, empat atau lima kali mengalami perisitiwa arahan Yang Kuasa ini sepanjang hidupnya.

Tak ada kekalutan menyiapkan kebutuhan memandangi surya yang konon sedang dilahap Batara Kala. Mbah Bantu dengan damai menikmati sinar matahari menerpa kulitnya yang keriput di sana sini.

Baginya, gerhana matahari entah itu total, sabit, cincin atau apa pun namanya adalah perkara yang tak beda dengan bergantiannya hujan-panas, lapar-kenyang, tidur-bangun atau terang-pekat seiring berotasinya jagat. Semua itu adalah anugerah yang cukup dengan disyukuri. Tak lebih.

Sedangkan di ujung tenggara dusun kecil tempat Mbah Bantu tinggal, pengeras suara dari Masjid Al Barokah berseru kepada warga untuk menjalankan salat gerhana. Tua, muda, pria, wanita berbondong ke sana. Memang tak semua, tapi cukup untuk membuat sejumlah saf jemaah.

Tiga empat wanita bermukena putih berjalan ke selatan tempat di mana masjid itu berdiri gagah, beriringan dengan dua bocah bersarung dan berkopiah. Tak mewah, hanya alpukah menjalankan petuah. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved