Indonesia Butuh Banyak Entrepeneur

Ini nantinya juga bisa menjadi modal dalam menghadapi persaingan bebas antar negara.

Laporan Reporter Tribun Jogja, Singgih Wahyu Nugraha

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Indonesia masih membutuhkan banyak entrepenur (wirausaha) untuk menguatkan pertumbuhan ekonomi negara. Ini nantinya juga bisa menjadi modal dalam menghadapi persaingan bebas antar negara.

Menteri Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM), Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga mengatakan bahwa jumlah entrepeneur di Indonesia saat ini hanya sekitar 1,5 persen dari jumlah penduduk yang mencapai 250 juta jiwa.

Angka itu terbilang masih sangat kecil jika melihat jumlah penduduknya. Maka itu, pihaknya mendorong munculnya semkain banyak entrepenur baru yang sanggup berperan dalam perekonomian nasional.

"Jumlah entrepenur kita masih sangat kecil dibanding negara-negara lain yang sudah punya 7 persen. Misalnya Singapura, Malaysia, Thailand, kita jauh tertinggal. Maka itu, kita perlu cetak entrepenur-entrepenur lebih banyak lagi," kata Puspayoga seusai penyerahan hadiah pemenang WIrausaha Muda Mandiri 2016 di Yogyakarta, Selasa (8/3/2016).

Upaya mencetak lebih banyak entrepenur itu menurutnya juga sejalan dengan visi pemerintah untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi.

Tujuannya adalah menekan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah dalam hal ini disebutnya juga akan mendorong urusan infrastruktur dan deregulasi yang lebih baik.

Infratruktur yang memadai diharapkan bisa memperlancar lalu linta sperekonomian Indonesia, baik di darat maupun laut.

Sedangkan deregulasi dengan menyederhanakan urusan perizinan diharapkan bisa mempermudah antrepenur baru dalam mengurus perizinan usahanya.

Namun begitu, dirinya juga berharap ada peningkatan daya saing dengan kualitas sumber daya manusia dan produk yang lebih baik.

Ini akan sangat berguna dalam menghadapi era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). MEA disebutnya bukan hal yang menakutkan karena memungkinkan terjadinya sinergi dengan negara lain dalam pemenuhan kebutuhan masing-masing.

"Sekarang kan sudah masuk era MEA, ya tinggal jalanin aja. kekurangan negara lain bisa kita isi, demikian juga kekurangan kita bisa diisi oleh negara lain. Namun, kita tentunya juga harus meningkatkan persaingan, produk, dan kualitas SDM," kata dia.(*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved