Dua Inovasi Kulonprogo Masuk Top 99 Inovasi Terbaik

Dua inovasi daerah Kulonprogo berupa program beras daerah untuk menggantikan raskin dan Kelompok Asuh Keluarga Binangun masuk dalam Top 99 Inovasi.

Penulis: Yoseph Hary W | Editor: oda
Tribun Jogja/ Bramasto Adhy
Pekerja melakukan bongkar muat karung beras berisi beras bersubsidi di Kelurahan Patehan, Yogyakarta, Kamis (28/1/2016). (ilustrasi) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Yoseph Hary W

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Dua inovasi daerah Kulonprogo berupa program beras daerah (Rasda) untuk menggantikan raskin dan Kelompok Asuh Keluarga Binangun masuk dalam Top 99 Inovasi Pelayanan Publik 2016.

Sebagai kelanjutan pencapaian itu, pekan kemarin Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo diundang melakukan presentasi dan wawancara di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPANRB).

Berdasarkan rilis disampaikan Bagian Humas TI Setda Kulonprogo, Senin (7/3/2016), Bupati mempresentasikan bahwa Kulonprogo memiliki tantangan soal tingkat kemiskinan daerah.

Selain itu, pendapatan perkapita juga rendah karena mayoritas matapencaharian warga merupakan sektor pertanian.

Namun, disebutkan bahwa Kulonprogo memiliki surplus beras. Sayang, kondisi itu menjadi ironi ketika di wilayah ini diterapkan program raskin.

Hasto menyebut bahwa program raskin dari Pemerintah menjadi ironi di tengah surplus produksi padi di Kulonprogo.

"Jadi muncul inisiatif mengganti raskin menjadi rasda karena lebih mengandalkan beras lokal," kata Bupati.

Program rasda dianggap lebih sesuai dibanding raskin. Pasalnya, beras dalam rasda lebih berkualitas dibanding raskin yang cenderung masih dikeluhkan akibat kualitas buruk, berbau, remuk dan kerap berkutu.

Penggunaan beras lokal tersebut disebut juga untuk menjaga harga beras tidak jatuh saat panen raya. Selain itu, petani menjadi lebih kuat, ekonomi masyarakat bergerak aktif dan peredaran uang di masyarakat meningkat.

Adapun untuk Kelompok Asuh Keluarga Binangun atau KAKB merupakan konsep sister family yang terdiri atas empat keluarga sejahtera, enam keluarga pra sejahtera, dan satu keluarga miskin absolut.

Ini merupakan kegiatan kewirausahaan agar kesejahteraan warga termasuk uang miskin absolut juga meningkat.

Paparan bupati itu mendapat apresiasi dari para panelis. Salah satunya, Prof Siti Zuhro dari LIPI, menyatakan apresiasinya atas inovasi tersebut.

Menurutnya, inovasi tersebut riil dan bermanfaat bagi masyarakat. "Saya tidak mendengar ada praktik negatif. Ini luar biasa," katanya. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved